45 Pohon Tumbang, Satu Orang Tewas

ilustrasi BMKG. (net)

Akibat hujan disertai badai yang melanda Kota Padang selama dua hari belakangan, Sabtu dan Minggu (3-4/4) kemarin, mengakibatkan puluhan pohon tumbang. Pohon tersebut menimpa orang, rumah, dan kabel listrik, serta menghambat akses jalan sehingga menimbulkan kemacetan.

Informasi yang dihimpun Padang Ekspres, satu orang dilaporkan tewas dalam peristiwa ini akibat tertimpa pohon tumbang. Sementara total kerugian material ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.

Diketahui, korban meninggal dunia tersebut merupakan seorang pekerja kebun di kawasan Kecamatan Bungus Teluk Kabung dan berasal dari Kabupaten Pesisir Selatan.
Hal itu dibenarkan Lurah Teluk Kabung Selatan, Zulfahmi. Dia mengatakan, tempat kejadian berada di sekitar 400 meter dari jalan menuju Sungai Pisang. Korban diketahui bernama Naldi, warga Kabupaten Pesisir Selatan. Saat kejadian, katanya, korban sedang bekerja.

“Jadi bukan warga atau masyarakat penghuni di sekitar tempat kejadian. Saya lupa umurnya. Tapi korban merupakan warga pendatang dari Pessel yang beristrikan warga setempat,” katanya.

Usai dilakukan pengecekan data, sambung Zulfahmi, berdasarkan Kartu Keluarga korban ternyata belum tercatat sebagai warga Teluk Kabung Selatan. “Jenazah korban sudah diserahkan ke pihak keluarga untuk dimakamkan,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Padang Sutan Hendra menyebut, sekitar 45 pohon tumbang akibat hujan disertai badai yang melanda Kota Padang dua hari belakangan, Sabtu dan Minggu (3-4/4).

Selain menyebabkan satu orang korban meninggal dunia, material pohon tumbang tersebut juga menimpa rumah sehingga menimbulkan kerusakan ringan hingga berat, menimpa kabel listrik, dan menghambat akses jalan sehingga menimbulkan kemacetan.

Hingga Minggu sore ini, sambung Sutan, masih ada sekitar 15 material pohon tumbang lagi yang belum dibersihkan. Tim yang dikerahkan sebanyak tiga regu dengan jumlah personel sebanyak 25 orang masih berjibaku di lapangan.

“Kendalanya, selain lokasinya jauh-jauh juga membersihkan pohon tumbang yang menimpa rumah itu perlu ke hati-hatian. Jangan sampai menambah kerusakan rumah tersebut. Jadi perlu ke hati-hatian,” terangnya Minggu (4/4).

Lebih lanjut dia menyampaikan, total kerugian akibat peristiwa pohon tumbang ini ditaksir mencapai puluhan juta. Namun dia tidak bisa menyebut secara detail berapa nilai kerugian tersebut.

Untuk itu, Sutan mengimbau kepada masyarakat terutama yang beraktivitas di luar rumah agar lebih ekstra hati-hati saat terjadi hujan disertai angin kencang. “Jika angin kencang dan disertai hujan, kalau dapat berlindung sementara di lokasi yang aman. Jangan berada di bawah pohon dan kendaraan juga jangan parkir di bawah pohon,” imbaunya.

Baca Juga:  Wako: Sebagai Barometer Sumbar, Padang Harus Superior

Terpisah, fenomena angin kencang dan tingginya gelombang laut di beberapa lokasi di Sumbar diprediksi akan mulai berkurang dua hingga tiga hari ke depan. Kepala Seksi Observasi, Badan Meteorologi dan Klimatologi dan Geofisika, Stasiun Meteorologi Kelas II, Minangkabau, Yudha Nugraha mengatakan, fenomena angin kencang di sejumlah lokasi di Sumbar beberapa hari lalu termasuk ke dalam kategori ekstrem.

Kecepatan angin mencapai 34 Knot atau setara dengan 60 Km per jam. Angka tersebut melebihi dari batas kategori ekstrem yang memiliki kecepatan sebesar 25 Knots.
“Dampak dari kejadian angin kencang yakni tumbangnya pohon dan objek berat lainnya di beberapa titik yang menyebabkan kerugian materil,” katanya.

Selain itu, dampak lainnya yaitu tingginya gelombang laut di sekitar perairan selat mentawai. Tinggi gelombang laut berkisar 1,5 hingga 2,5 meter yang dapat berisiko bagi kapal dan perahu kecil para nelayan.

Ia melanjutkan, dari hasil analisa dinamika atmosfer menunjukkan terdapat pola gangguan cuaca berskala regional di daerah khatulistiwa yang dinamakan dengan gelombang ekuator Rossby di sebelah barat Pulau Sumatera.

Gelombang Rossby ini diidentifikasikan sebagai adanya sistem Low Pressure Area (LPA) yang berpasangan di utara dan selatan sehingga menyebabkan penyempitan lorong udara yang bergerak dari timur ke barat pada pusat tekanan rendah dan menjadi penggerak dalam meningkatkan kecepatan angin.

Bersamaan dengan adanya fenomena gelombang ekuator Rossby, terdapat juga aktivitas Osilasi Madden Julian (MJO). Dimana saat ini berada di Samudera Hindia yang mengindikasikan munculnya peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah Sumbar.

“Kedua faktor tersebut yang menyebabkan dalam beberapa waktu terakhir kondisi cuaca di Sumbar cenderung didominasi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat dan juga disertai dengan angin kencang,” jelasnya.

Hasil pemodelan BMKG menunjukkan masih terdapat potensi hujan intensitas ringan hingga sedang yang disertai angin kencang terutama pada sore hingga dini hari, dimana potensi tersebut masih dapat terjadi hingga kemarin (4/4).

“Selanjutnya potensi angin kencang akan menurun pada dua hingga tiga hari ke depan di Sumbar. Adapun penyebabnya kondisi gelombang Rossby sudah mulai bergerak menjauhi Sumbar.

“Hal itu sebagai penanda awal pembentukan bibit keadaan psikotropis. Angin kencang sudah berpotensi menurun, namun hujan masih akan terus berlangsung dengan intensitas ringan hingga sedang,” ujarnya. (i/cr1)

Previous articleJadikan Masjid Wadah Pembentukan Karakter
Next article300 Lebih Bangunan Rusak Diterjang Angin Kencang