Puluhan Ninik Mamak dan Bupati Dua Kabupaten Temui Gubernur Sumbar

6640

Puluhan ninik mamak yang berasal dari dua kabupaten di Sumatera Barat, yakni Solok Selatan dan Pesisir Selatan, menemui Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno di kediamannya, Sabtu (5/12/2020).

Ninik namak dari Banda Sapuluah Pessel dan Muaralabuh Solsel tersebut datang bersama Pjs. Bupati Solsel Jasman Rizal dan Pjs. Bupati Pessel Mardi untuk menyampaikan aspirasi dan dukungannya untuk pelebaran jalan Kambang – Muaralabuh.

Berbagai pertimbangan dan alasan disampaikan perwakilan ninik mamak yang bersaudara erat tersebut, yakni Datuak Bandaro Hitam dari Banda Sapuluah, dan Inyiak Majolelo dari Muaralabuh.

Datuak Bandaro Hitam mengatakan salah satu alasan perlunya dilebarkannya jalan setapak antara Kambang-Muaralabuh adalah terkait mitigasi bencana. Masyarakat memerlukan akses jalan sebagai antisipasi terhadap potensi bencana tsunami yang bisa saja sewaktu-waktu melanda.

Sementara itu, Inyiak Majolelo dari Muaralabuh mengatakan bahwa terbukanya akses jalan akan menguntungkan banyak aspek, baik aspek ekonomi, aspek kebudayaan dan kekeluargaan, serta dapat mempersingkat waktu tempuh dari 10 jam bisa saja menjadi 2 jam.

Pertemuan ninik mamak dengan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno. (Foto: Humas)

Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno mengatakan bahwa pihak pemprov mendukung penuh usaha tersebut dari dulu. Bahkan pihaknya sudah mengirimkan surat berulang kali kepada pihak kementerian.

“Tidak hanya 100 persen, tapi bahkan kita mendukung hingga 1.000 persen terwujudnya akses jalan Kambang-Muaralabuh ini. Dan kita sudah berulang kali menyurati pemerintah,” ujar Irwan.

Namun menurutnya jawaban pemerintah tetap tidak dibolehkan karena jalan tersebut melintasi kawasan hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) sebagai hutan konservasi dan paru-parunya dunia.

Irwan mengaku bahwa isu TNKS sebagai hutan konservasi yang harus terus dilindungi bukanlah isu Provinsi Sumbar atau Indonesia saja, tapi isu tersebut adalah isu dunia yang sering dibawa dalam berbagai pertemuan-pertemuan internasional.

Walaupun demikian, Irwan tetap mengatakan akan kembali membawa usulan ini kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

“Mudah-mudahan Januari 2021, bersama-sama ninik mamak kita agendakan untuk bertemu dengan menteri terkait di Jakarta,” ucapnya.

Dalam pertemuan tersebut juga diapungkan berbagai solusi pelebaran jalan setapak yang telah berusia ratusan tahun tersebut, tanpa harus merusak hutan yang ada.

Di antaranya melalui jalan layang, atau alternatif lain yang memungkinkan koneksi dua daerah tersebut dapat kembali terhubung.

“Konsep ini harus kita matangkan bersama para pakar, agar nanti ketika menghadap menteri, kita punya konsep dan tawaran-tawaran alternatif terkait jalan Kambang-Muaralabuh ini,” terang Irwan.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno bersama dua Pjs Bupati dan ninik mamak. (Foto: Humas)

Anggota DPRD Sumbar yang berasal dari Solsel Nurfirmanwansyah mengatakan bahwa jalan tersebut bukanlah jalan yang baru, tapi jalan yang sudah ada sejak nenek moyang dulu.

Ia juga menyinggung tentang wacana kontribusi negara-negara industri maju kepada provinsi atau daerah di mana TNKS berada dalam bentuk perdagangan karbon (carbon trade). Terdapat kompensasi yang diberikan kepada daerah-daerah pemilik hutan sebagai penyerap karbon.

Carbon trade merupakan kompensasi yang diberikan oleh negara-negara industri maju (penghasil karbon) untuk membayar kerusakan lingkungan akibat asap karbondioksida (CO2) kepada negara pemilik hutan (penyerap karbon). Mekanisme carbon trading telah menjadi solusi di beberapa negara dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.(rel/adv)