“Data kelahiran terbaru berasal dari indukan sapi peranakan ongle (PO) yang kita kembangkan di sentra pembibitan Cubadak Lilin, Nagari Tigobalai, Matur. Kemarin (Senin, red) telah kita tinjau, anak sapi betina dalam kondisi sehat dan saat ini usianya baru tiga hari,” kata Kepala Dinas Pertanian Agam, Afniwirman, Selasa (13/9).
Ia menjelaskan, 2.241 anak sapi itu lahir dalam kurun waktu Januari-Juli 2022. Realisasi kelahiran ini mencapai 60,57 persen dari target 3.700 ekor sekaligus menandai suksesnya program IB dalam meningkatkan populasi ternak sapi di Agam.
Pelaksanaan IB hingga Juli 2022, katanya, telah terealisasi untuk 5 062 ekor sapi atau mencapai 82,44 persen dari target 6.140 ekor tahun ini. Tingkat kebuntingan ditarget sebanyak 3.500 ekor dan telah terealisasi sebanyak 2.345 ekor atau 67 persen.
“Ini capaian yang menggembirakan. Tentu ini akan dapat meningkatkan ekonomi peternak di Agam,” ujarnya lagi.
Pihaknya bertekad menjadikan Agam sebagai sentra pengembangan dan pembibitan sapi ke depan. Program ini sengaja digagas untuk mengurangi dominasi ketergantungan pasokan bibit dari daerah luar.
Nagari Pasialaweh di Kecamatan Palupuh dilirik sebagai lokasi pembibitan yang potensial. Sebab memiliki lahan cukup bagus untuk pengembalaan sapi dan luasnya diestimasikan mencapai 100 hektare.
Pihaknya juga telah duduk bersama pihak nagari dan kecamatan mengkaji program pembibitan tersebut. Semua pihak katanya, menyambut baik, terutama tokoh masyarakat nagari.
“Jika program pembibitan sapi di Pasialaweh ini telah berjalan nantinya, kita optimis ketersediaan bibit sapi unggul akan terpenuhi untuk daerah ini. Muara program pembibitan ini sendiri, nantinya bibit sapi unggul yang lahir akan disalurkan ke masyarakat sebagai bantuan untuk dikembangkan. Jadi, kita tidak perlu lagi mendatangkan bibit dari luar,” papar Afniwirman.
Agam sendiri tambahnya, baru punya satu lokasi sentra pembibitan sapi bertempat di Cubadak Lilin, Nagari Tigobalai, Matur. Sebanyak 15 ekor indukan sapi unggul berbagai jenis dan 6 ekor pejantan dikembangkan di lokasi itu saat ini.
Namun sayang, upaya meningkatkan populasi sapi di sentra Cubadak Lilin tidak berjalan sesuai ekspektasi sejauh ini. Sebab, dalam beberapa tahun terakhir, belasan indukan sapi di sana gagal bunting.
Kendalanya dipengaruhi faktor usia dan pakan. Indukan sapi yang ada saat ini banyak yang telah melewati usia produktif dan tercatat hanya tiga ekor yang masih produktif, salah satunya anak sapi yang baru lahir tiga hari lalu yang wacananya akan dibesarkan untuk dijadikan indukan.
“Idealnya, satu indukan sapi itu melahirkan satu ekor anak per tahun. Indukan di Cubadak Lilin tidak demikian. Memang, pakan dan usia sangat menentukan tingkat keberhasilan upaya pengembangan sapi ini,” tuturnya.
Ke depan tambahnya, indukan sapi yang tidak produktif itu akan diremajakan kembali. Artinya, sapi tua yang ada saat ini akan dijual atau dilelang dan diganti indukan baru.
“Seyogyanya, jika sapi tidak produktif lagi tentu akan jadi mubazir upaya pengembangan yang kita lakukan, maka solusinya diremajakan. Namun, ini perlu persetujuan pimpinan dan alasan kita hendak meremajakan sapi ini juga perlu penguatan. Baik itu tentang kesehatan sapi dari petugas Keswan dan lainnya,” pungkas Afniwirman. (ptr) Editor : Novitri Selvia