Kenaikan ini dipicu meningkatnya permintaan dari luar daerah, terutama Kota Solok dan Payakumbuh.
Pedagang santan dan sembako di Pasar Lama Lubuk Basung, Feri, mengatakan permintaan batok kelapa mulai meningkat sejak setahun terakhir. Batok kelapa kini dibeli sebagai bahan baku pembuatan briket arang.
“Kalau dulu batok kelapa hanya ditumpuk atau dibuang. Sekarang malah dicari-cari pembeli,” ujar Feri.
Menurut Feri, briket arang berbahan batok kelapa diminati karena dinilai lebih ramah lingkungan, memiliki daya bakar lebih lama, serta menghasilkan asap lebih minim dibanding arang kayu.
Produk ini juga digunakan untuk industri kuliner dan permintaan ekspor. Pembeli dari luar daerah umumnya datang langsung menggunakan kendaraan untuk mengambil barang.
Dalam sebulan, pembelian batok kelapa bisa mencapai sekitar 30 karung, tergantung stok dan permintaan. Dalam sepekan, batok yang terkumpul dari pedagang santan mencapai puluhan kilogram.
“Harganya sekarang bisa enam ribu rupiah per kilo. Dulu paling tinggi seribu rupiah, itu pun jarang ada yang mau beli,” katanya.
Kenaikan harga ini memberi tambahan pendapatan bagi pedagang santan dan peladang kelapa di Agam.
Batok kelapa yang dulunya dianggap limbah kini menjadi komoditas bernilai ekonomi. “Sekarang batok kelapa tidak dibuang lagi. Sudah ada harganya,” kata Feri.
Para pedagang berharap potensi batok kelapa dapat dikembangkan lebih jauh. Mereka mendorong pemerintah daerah menghadirkan unit pengolahan briket arang di Agam agar nilai tambah dan peluang kerja dapat dinikmati masyarakat.
“Kalau bisa diolah di sini, tentu lebih bagus. Ekonomi bisa berputar di Agam,” tutupnya.(CR1)
Editor : Hendra Efison