“Bunga ini ditemukan dalam kondisi mekar kemarin (Rabu, red) dan sudah mekar hari ketiga saat ini,” kata Kepala BKSDA Resor Agam, Ade Putra, Kamis (7/10).
Hasil indentifikasi pihaknya lanjut Ade, bunga cantik itu berdiameter 70,1 sentimeter dan berkelamin jantan dengan kondisi terjepit di antara akar inangnya. Bunga ini katanya, tidak mekar dalam waktu lama, biasanya hanya mekar dalam jangka waktu 7-10 hari, setelah itu akan layu dan membusuk.
Rafflesia tuan-mudae masih anggota keluarga rafflesiaceace. Wujud bunga ini hampir mirip dengan rafflesia arnoldi. Sedikit yang membedakan terlihat pada warna morfologi atau fisik.
“Perbedaan terlihat pada warna kelopak atau perigon. Rafflesia arnoldi lebih ke orange sedangkan spesies tuan-mudae ke arah merah maron,” jelasnya.
Selain itu, perbedaannya juga bisa dilihat dari pola putih atau bercak pada kelopak. Arnoldi berbecak ganda, sementara tuan-mudae memiliki bercak tunggal.
“Bercak pada Arnoldi juga lebih besar dan jarak antara satu bercak dengan yang lainnya juga agak berjauhan jika dibandingkan dengan jenis tuan-mudae,” sambungnya.
Sejauh ini tambah Ade, baru 31 jenis tumbuhan rafflesia yang teridentifikasi di dunia. Sebanyak 15 jenis diantaranya tumbuh di Indonesia dengan sebaran 11 jenis berada di Pulau Sumatera.
Rafflesia tuan-mudae pertama kali ditemukan di Serawak, Malaysia. Rekor rafflesia tuan-mudae raksasa dan terbesar di dunia dengan diameter mencapai 111 sentimeter tercatat tumbuh dan terdokumentasi di kawasan Cagar Alam Maninjau. Ditemukan mekar pada 1 Januari 2020 lalu.
“Bunga rafflesia merupakan jenis tumbuhan yang dilindungi Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, sehingga keberadaannya terus dipantau dan dijaga untuk tetap lestari,” ujar Ade. (ptr) Editor : Novitri Selvia