Salah satunya PT BPR Mutiara Pesisir berhasil tumbuh mendekati double digit di tahun buku 2021. Total asset tercapai Rp30,48 Miliar, realisasi Kredit tersalurkan sebanyak Rp18,96 Miliar, Dana Pihak Ketiga terhimpun sebanyak Rp 24,13 Miliar dan yang terpenting laba bersih usaha berhasil meningkat dari Rp 303 Juta di tahun 2020 menjadi Rp 558 Juta di tahun 2021 atau tumbuh secara year on year sebesar 84,40 persen.
“Alhamdulillah jika dibandingkan tahun buku 2020 yang lalu, maka tahun 2021 jelas lebih baik. Total asset kita di BPR Mutiara Pesisir tercapai Rp 30,48 Miliar, realisasi Kredit tercatat sebanyak Rp 18,96 Miliar, Dana Pihak Ketiga terhimpun sebanyak Rp 24,13 Miliar. Begitu juga dengan total pendapatan. Baik pendapatan bunga maupun fee base income. Sebaliknya dari sisi biaya sepanjang tahun 2021 kita mengalami perbaikan hingga ratio BOPO berhasil ditekan menjadi 85,65 persen. Kinerja yang relatif baik inilah berdampak pada pencapaian laba. Laba bersih usaha berhasil ditingkat dari Rp 303 juta di tahun 2020 menjadi Rp 558 juta tahun 2021 atau tumbuh sebesar 84,40 persen secara year on year," ujar Direktur Utama PT BPR Mutiara Pesisir, Sri Mulyani didampingi Direktur Muhammad Abri Syani.
Menurut Sri Mulyani, membaiknya kinerja PT BPR Mutiara Pesisir ditahun 2021 tak terlepas dari kerja keras team work dalam mencapai target yang sudah disepakati secara bersama. Baik dalam menghimpun dana maupun dalam mendistribusikan kembali berupa kredit. Keduanya sama sama on target dan berhasil membukukan pertumbuhan.
Asset, Dana dan Biaya
Sesuai dengan Rencana Bisnis Bank (RBB) secara kuantitas usaha PT BPR Mutiara Pesisir on target di tahun 2021 ini. Total asset yang mampu dibukukan tercatat sebanyak Rp 30,48 Miliar atau tumbuh 9,71 persen dibandingkan total asset tahun 2020 yang lalu dengan realisasi sebesar Rp 27,78 Miliar.
Bertumbuhnya total asset PT BPR Mutiara Pesisir selama tahun 2021 juga tak terlepas dari membaiknya kinerja tresurry dan bidang kredit sepanjang tahun 2021. Buktinya total Dana Pihak Ketiga yang mampu dibukukan selama tahun 2021 tercatat sebanyak Rp 24,13 Miliar atau tumbuh sebesar 15,22 persen dibandingkan Dana Pihak Ketiga tahun 2020 yang lalu dengan realisasi sebesar Rp 20,95 Miliar.
Dari dua produk penghimpun dana, produk tabungan terlihat lebih dominasi pertumbuhan. Total dana tabungan yang mampu dihimpun tercatat sebanyak Rp 15,47 Miliar atau tumbuh sebesar 19,59 persen dibandingkan total dana tabungan tahun 2020 yang lalu dengan realisasi sebesar Rp 12,94 Miliar. Sedangkan dana deposito tercapai sebanyak Rp 8,66 Miliar atau tumbuh sebesar 8,17 persen secara year on year.
“Khusus untuk dana kita di BPR Mutiara Pesisir memang lebih menitikberatkan ke dana tabungan. Langkah ini sebagai upaya untuk meminimalisir cost of fund dan membuat BPR Mutiara Pesisir lebih kompetitif di pasar kredit”, ujar Sri Mulyani.
Bertumbuhnya dana otomatis berdampak pada peningkatan beban terutama beban bunga. Total beban bunga yang musti dipikul selama tahun 2021 tercatat sebanyak Rp 1,02 Miliar sedangkan total beban operasional sepanjang tahun 2021 tercatat Rp 3,82 Miliar.
Kredit dan Pendapatan
Berbanding lurus dengan tresurry, bidang kredit sepanjang tahun 2021 di BPR Mutiara Pesisir juga terpantau relative lebih baik. Total realisasi kredit yang mampu disalurkan selama tahun 2021 tercatat sebanyak Rp 18,96 Miliar atau bertumbuh secara year on year sebesar 7,89 persen.
Bertumbuhnya realisasi kredit tentulah berdampak pada pendapatan. Pendapatan bunga yang mampu dibukukan selama tahun 2021 tercatat sebanyak Rp 4,01 Miliar atau tumbuh dibandingkan pendapatan bunga tahun 2020 dengan realisasi Rp 3,88 Miliar. Kondisi yang lebih bagus justru terlihat pada pendapatan lainnya atau fee base income. Sepanjang tahun 2021 tercatat total fee base income yang mampu dibukukan sebesar Rp 356 juta atau tumbuh 81,63 persen dibandingkan fee base income tahun 2020 yang lalu dengan realisasi Rp 169 juta.
NPL, BOPO dan Laba
Kalau tadi kita berbicara kuantitas usaha maka secara kualitas usaha PT BPR Mutiara memang masih membutuhkan perbaikan terutama pada bidang kualitas kredit. Ratio Non Performance Loan masih perlu perbaikan hingga mampu diturunkan menjadi dibawah angka 5 persen. “Betul, NPL memang menjadi target utama kita ditahun 2022 ini. Kita target untuk tahun buku 2022 ratio NPL sudah berada dibawah 5 persen”, Sri Mulyani.
Sementara itu dari sisi biaya, PT BPR Mutiara Pesisir selama tahun 2021 terpantau cukup bagus seiring turun tajamnya ratio BOPO. Tahun buku 2021 ini tercatat ratio Biaya Operasional berbanding Pendapatan Operasional (BOPO) sebesar 85,65 persen. Capaian BOPO ini masih terbilang bagus jika dibandingkan tahun tahun sebelumnya.
“Asset yang bertumbuh, kredit yang meningkatkan, biaya yang efisien dan efektif serta total pendapatan yang meningkat siginifikan inilah memberikan dampak positif bagi kinerja laba. Laba bersih usaha berhasil ditingkatkan dari Rp 303 juta ditahun 2020 menjadi Rp 558 juta ditahun 2021 atau tumbuh 84,40 persen secara year on year”, ucap Sri Mulyani.
Dari data yang dimiliki, PT BPR Mutiara Pesisir merupakan salah satu BPR yang tersegmented khusus untuk masyarakat kawasan pesisir pantai. BPR ini juga merupakan mitra sekaligus perpanjangan tangan dari pemerintah terkhususnya Kementrian Perikanan dan Kelautan dalam upaya meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir pantai.
Secara kinerja PT BPR Mutiara Pesisir ini sempat mengalami pasang surut. Namun semenjak tiga tahun terakhir mulai menunjukan perbaikan kinerja hingga saat ini. “Alhamdulillah, kita sudah mampu menghasilkan rebound kinerja ditahun 2021 ini. Semoga saja ditahun 2022 mendatang kita bisa jauh lebih baik lagi”, tukuk Sri Mulyani.(two)
Editor : Hendra Efison