Korban dilaporkan bernama Raihan Febrian, 20, warga Tengkong-Tengkong, Jorong V Sungaijariang, Nagari Lubukbasung. Insiden berujung maut itu terjadi di bendungan air PLTA, Muko-Muko, Nagari Kotomalintang.
“Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, korban dikatakan terpeleset saat hendak memancing. Kemudian secara refleks memegang kabel listrik, lalu tersetrum,” kata Kapolsek Tanjungraya, AKP Yudi Partanto membenarkan kejadian tersebut.
Ia menjelaskan, peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 12.00. Kejadian berawal saat korban bersama temannya datang ke bendungan air PLTA, Muko-Muko untuk memancing.
Korban yang lagi mencari posisi memancing di tepi danau tiba-tiba tergelincir dan secara tak sengaja memegang kabel sling penahan tiang listrik yang berada di dekatnya. Malang, kabel yang dipegang ternyata memiliki arus listrik dan seketika korban langsung tersetrum.
“Saat kejadian, kondisi cuaca juga sedang hujan. Ini diduga dapat mempercepat hantaran arus listrik ke kabel sling penahan tonggak yang dipegang korban dan menyengat korban,” jelas Yudi.
Informasi lain yang diperoleh Padang Ekspres, sengatan listrik itu membuat tubuh korban terlempar ke dalam danau, di bagian perut terlihat ada luka robek memanjang. Teman korban berserta pemancing lain langsung mengevakuasi jasad korban usai berkoordinasi dengan petugas piket intake PLTA.
“Usai kejadian, korban langsung dilarikan ke RSUD Lubukbasung namun dilaporkan meninggal dunia saat diberikan pertolongan. Saat ini korban sudah dibawa ke rumah duka di Tengkong-tengkong, Jorong V Sungai Jariang, Nagari Lubukbasung untuk disemayamkan,” sebut Yudi.
Atas kejadian itu, pihaknya mengimbau masyarakat yang memancing atau mencari ikan di Danau Maninjau untuk selalu berhati-hati. Cuaca hujan saat ini katanya, sangat rawan dan berbahaya. Sehingga masyarakat diminta tetap waspada, baik akan bencana longsor, pohon tumbang dan musibah lainnya.
Sebagaimana diketahui, selama tiga atau empat hari terakhir Danau Maninjau ramai diserbu warga untuk berburu ikan yang menepi mencari oksigen. Semenjak cuaca ekstrem membawa ancaman kematian pada ikan lantaran mempengaruhi penurunan kadar oksigen di danau, membuat ikan liar dan biota khas danau Maninjau lainnya menepi menyelamatkan diri.
Ekosistem danau seperti ikan nila, patin, bada dan rinuak hijrah ke perairan dangkal untuk mencari oksigen. Ikan-ikan itu sekarat dan mengapung ke permukaan. Warga setempat mengistilahkannya dengan ”maangai”. Kondisi ini dimanfaatkan oleh nelayan dan warga untuk berburu ikan sekarat tersebut.
Ikan yang sedang sekarat itu disebut lebih jinak atau lebih mudah ditangkap. Nelayan dan warga menangkapnya secara manual. Baik menggunakan jaring, tangguk, alat tembak maupun pancing. Tidak hanya oleh mereka yang berasal dari wilayah salingka danau, namun juga banyak warga luar yang datang menangkap ikan ke Maninjau, seperti dari Lubukbasung dan Matur.
“Ikan-ikan ini, kalau tidak ditangkap berpotensi besar juga akan mati. Peluang untuk hidupnya lebih kecil sebab kekurangan oksigen,” kata Ricky, salah seorang warga Lubukbasung yang turut mengincar ikan maangai itu di Sungaitampang, Nagari Tanjungsani, Minggu (20/11) lalu. (ptr)
Editor : Novitri Selvia