Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPKP) Agam, Rosva Deswira menyebut, penambahan jumlah ikan yang mati itu berasal dari Nagari Kotomalintang. Tak sedikit, pihaknya mencatat sebanyak 53 ton. Sebaran ikan mati yang terbaru itu ditemukan di Jorong Alai, Rambai dan Ambacang.
“Data terakhir yang kami himpun, terdapat penambahan ikan mati di Kotomalintang yang mencapai 53 ton. Jadi total kematian ikan di nagari itu sudah 168 ton. Di nagari ini yakni di Jorong Muko-Muko sebelumnya juga telah tercatat sebanyak 115 ton ikan mati, tersebar pada 278 petak KJA dengan 16 pemilik keramba,” ujar Rosva, kemarin (23/11).
Dengan tambahan itu, lanjutnya, total ikan mati dalam sepekan terakhir telah mencapai 445 ton yang tersebar di tiga nagari. Gelombang kematian ikan ini dimulai sejak Rabu (16/11) malam di Jorong Tanjungsani Kenagarian Sungaibatang. Sebanyak 45 ton ikan ditemukan mati pada 124 keramba milik dari 27 pembudidaya.
Tingkat kematian ikan terparah kata dia, ditemukan di Nagari Tanjungsani mencapai 242 ton. Ratusan ton ikan ini tersebar pada 770 petak KJA milik dari 179 pembudidayaan yang ada di Jorong Sungaitampang, Sigiran, Pantas, Mukojalan, Batunanggai, Galapuang dan Jorong Pandan. Kemudian terus meluas ke Nagari Kotomalintang.
Menurutnya, potensi kematian ikan itu bisa saja terus bertambah menyusul cuaca buruk yang diduga kuat jadi pemicu musibah itu masih terbilang belum stabil. Sesuai pengalaman katanya, cuaca buruk diprediksi akan berlangsung hingga Februari 2023 mendatang.
“Selama kurun waktu ini, penambak diminta untuk menahan diri menebar bibit baru. Sementara untuk ikan yang tersisa di keramba disarankan agar segera dipanen,” ajak Rosva.
Estimasi kerugian yang dialami penambak dari musibah kematian ikan kali ini imbuhnya lagi, otomatis juga bertambah dan diprediksi mencapai Rp9,34 miliar lebih. Jumlah ini dihitung berdasarkan harga ikan segar tersebut Rp21 ribu per kilogram saat ini.
Tidak hanya itu saja, akibat kematian massal ikan tersebut membuat kondisi air danau semakin tercemar. Bahkan wilayah salingka danau itu sudah diselimuti bau busuk menyengat yang berasal dari bangkai ikan dalam tiga atau empat hari terakhir.
Aroma udara tak sedap ini lebih pekat terasa di titik-titik nagari yang terdampak kematian ikan. Ia menjelaskan, durasi waktu yang dibutuhkan bangkai ikan untuk mengurai sejatinya cukup cepat. Paling hanya menghabiskan waktu lima hari. Namun, jika kematian ikan terus berlanjut, otomatis aroma tak sedap juga akan berlangsung lama.
“Untuk ikan yang mati di hari pertama lalu semestinya sudah mengurai saat ini. Paling yang mengapung tinggal bangkai ikan yang baru mati. Yang baru ini mungkin akan mengurai lagi lima hari ke depan. Biasanya, kalau terombang-ambing oleh ombak danau atau ditabrak perahu nelayan, proses mengurainya akan lebih cepat,” jelas Rosva.
Pihaknya mengimbau agar penambak tidak membiarkan bangkai ikan mengapung di permukaan danau, apalagi membuang ke badan danau. Ini untuk menghindari bau busuk dan amis di sekitar danau. Oleh karena itu, pihaknya menyarankan penambak agar memungut bangkai ikan dan menguburkan di daratan tiap kali musibah kematian ikan itu datang.
Bahkan katanya, pemerintah daerah siap menyediakan alat berat untuk menggali lubang tempat penguburan bangkai ikan tersebut. Namun catatannya kata dia, masyarakat memiliki tempat atau lahan penguburan sendiri. (ptr) Editor : Novitri Selvia