Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Harga Cabai Naik, Petani Agam Untung Besar

Novitri Selvia • Selasa, 5 Maret 2024 | 11:52 WIB

BERUNTUNG: Petani cabai di Lubukbasung saat memeriksa kebunnya, beberapa waktu lalu.(HUMAS PEMKAB AGAM FOR PADEK)
BERUNTUNG: Petani cabai di Lubukbasung saat memeriksa kebunnya, beberapa waktu lalu.(HUMAS PEMKAB AGAM FOR PADEK)
Harga cabai merah keriting terus merangkak naik di Kabupaten Agam. Kekinian, harga jual komoditas pokok ini menyentuh Rp 100 ribu perkilogram. Kenaikan harga ini memberi berkah bagi petani cabai di daerah setempat. Omzet puluhan juta dirogoh dalam sekali panen.

Di sejumlah pasar tradisional di Lubukbasung kemarin, terpantau harga cabai masih merangsek naik. Pedagang eceren mematok harga Rp 90-100 ribu untuk satu kilogram cabai merah keriting.

“Harga masih terbilang tinggi, kalau saya menjual Rp 90 perkilo. Kalau untuk dijual kembali Rp 80 perkilo. Seperempat Rp 25 ribu,” ujar salah seorang pedagang sayur mayur di Pasar Serikat Lubukbasung-Garagahan, Murni, 42.

Hal senada juga diutarakan pedagang lainnya, Anto, 32. Ia menyebut harga cabai merah keriting masih akan tetap bertahan untuk beberapa pekan ke depan. Bahkan, ia memprediksi harganya akan berpeluang naik dari harga sekarang.

“Cabai susah, petani setahu saya banyak gagal panen. Hukum pasar, stok sedikit harga naik. Apalagi mau bulan puasa,” bebernya.

Mahalnya harga di pasaran juga diamini petani cabai merah di Bandarbaru, Lubukbasung, Mardiyance. Ia menyebut, beberapa waktu terakhir harga jual cabai dari kebunnya juga turut naik.

Sehingga, ia mengaku kondisi kenaikan harga cabai merah keriting di pasaran mendatangkan untung baginya. Harga pasar yang tinggi, akan menutupi biaya pengolahan yang juga terbilang tinggi.

“Saat ini harga dari kebun saya patok Rp 70 ribu per kilogram. Selisih Rp 10 ribu dari harga di pasar,” sebutnya saat ditemui di lahan cabe miliknya di kawasan Bandarbaru.

Ia mengaku biaya pengolahan untuk lahannya yang berukuran lebih kurang setengah hektare itu mencapai Rpb20 juta. Biaya tersebut mulai dari penyiapan lahan, bibit, perawatan hingga panen.

Saat ini katanya, cabai merah keriting di lahannya sebanyak kurang lebih 3.000 rumpun. Ia mengaku telah memanennya berkali- kali, dimana saat ini sudah memasuki fase buah kedua.

“Fase buah pertama, panen perdana mulai dari 10, 20, 35, 40, 50, 60 sampai 140 kilo. Sekarang sudah masuk masa panen fase buah kedua,” ungkapnya.

Ia mengaku sudah memulai panen cabai sejak harga capai Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu di pasaran. Dari fase buah pertama katanya, ia sudah meraup pendapatan hingga Rp 44 juta. “Artinya untuk modal pertama sudah balik. Panen fase kedua ini tinggal untungnya saja lagi. Terakhir dipanen 70 kilogram,” ujarnya.

Dengan harga cabai merah keriting yang masih menanjak, ia mengaku mampu menutupi biaya perawatan seperti pemupukan dan penyemprotan hama. Ia biasa memupuk dua kali dalam sebulan dengan biaya kurang lebih Rp 500 ribu.

Berdasarkan pengalaman lanjutnya, harga jual cabai merah keriting di angka Rp 50 ribu di kebun sudah cukup membuat petani cabai tersenyum. Apalagi, jika harga cabai tembus angka Rp 100 ribu.

“Di angka Rp 40 hingga Rp 50 ribu harga di kebun sudah sangat kami syukuri. Tapi, jika harga cabai di bawah itu, hanya cukup pulang modal saja,” ujarnya.

Ia berharap, cabai miliknya akan terus tumbuh subur sehingga terus dapat memenuhi pasokan hingga lebaran mendatang. Dikatakan, saat ini tidak sedikit rekan-rekannya mengalami gagal panen.

“Alhamdulillah cabai saya selamat dan bisa dipanen. Cabai banyak kena, seperti di Maninjau, Silayang, Damagadang dan Padanglariang,” sebutnya. (ptr)

Editor : Novitri Selvia
#Petani Agam #harga cabai merah #harga cabai naik