PADEK.JAWAPOS.COM-Dalam rangka mendukung program ketahanan pangan dan pengendalian inflasi serta menjalankan program implementasi kebijakan ekonomi dan keuangan daerah (KEKDA), BI Sumbar melakukan monitoring dan penyerahan bantuan kepada kelompok tani di Kabupaten Agam.
Kegiatan ini dilaksanakan di Jorong XII Kampuang, Canduang Koto Laweh, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Kamis, (6/11).
Monitoring dan penyerahan bantuan ini diberikan kepada kelompok tani Marapi Milenial.
Kelompok tani yang dipimpin M Ridha ini, mengelola lahan pertanian mencapai 22 hektare dengan sejumlah komoditas utama di antaranya cabai, bawang dan padi.
“Strategi pengendalian inflasi saat ini dilakukan dengan pendekatan 4K, yakni, ketersedian pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi dan komunikasi yang efektif. Kita terus di koridor itu dan kita terus berkoordinasi berbagai pihak,” sebut Lukman Hakim, Kepala Tim Implementasi KEKDA Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat saat monitoring.
Dalam menjalankan pendekatan 4K tersebut, katanya, BI saat ini memiliki program implementasi kebijakan ekonomi dan keuangan daerah. Melalui program ini BI memberikan bantuan sarana dan prasarana kepada petani.
“Kita mendukung sejumlah sarana dan prasarana vital, dalam rangka mendorong produksi berjalan baik, pasokan tercukupi dan distribusi berjalan lancar. Kita juga ingin mengomunikasikan dan meyakinkan masyarakat bahwa proses produksi berjalan dengan baik dan stok tercukupi. Terkadang kenaikan harga terjadi bukan karena kekurangan stok tapi karena panic buying,” sebutnya.
Untuk memaksimalkan program ini, Lukman Hakim menyebutkan, pihaknya terus berkoordinasi dengan berbagai pihak termasuk dengan pemerintah daerah.
“Kita bisa lihat bersama, bahwa lahan pertanian kita berproses dengan baik, mulai dari cabai, bawang dan padi. Untuk lahan cabai sudah dipersiapkan dan untuk padi, kita lihat sudah mulai mengunakan pola tanam baru yakni mulsa tanpa olah tanah. Harapkan kita tentu pola alternatif ini diaplikasikan dalam skala lebih luas untuk memastikan ketersedian pasokan terutama saat kemarau,” sebutnya.
Sementara itu, Virgi Astuti, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Canduang, menyebutkan, Pemkab Agam terus berupaya maksimal untuk mendukung program swasembada pangan.
Itu dilakukan dengan berbagai pendekatan, mulai dari penganggaran dan juga pelatihan di tingkat nagari.
“Untuk mendukung program ketahanan pangan, Pemkab Agam melakukan program sawah pokok murah. Penanaman dilakukan dengan pendekatan mulsa tanpa olah tanah, dan Alhamdulillah kita telah berhasil panen kendati tengah menghadapi kemarau,” sebutnya.
Untuk mendukung produksi pertanian, termasuk untuk cabai dan bawang merah, terangnya, Pemkab Agam juga tengah melakukan pembangunan sejumlah jaringan irigasi termasuk di Kecamatan Canduang.
Terkait produksi dan proyeksi produksi di Kecamatan Canduang, Virgi menyebutkan untuk komoditas Padi, pada bulan Oktober tercatat penen padi dengan luasan 235 hektare dengan provitas 6,4 ton per hektare.
“Hingga akhir November diprediksi terdapat 168 hektare lahan yang akan panen, kemudian pada Desember diperkirakan akan ada panen 168 hektare lahan dengan provitas 6,4 ton per hektare,” sebutnya.
Kemudian untuk luasan lahan pertanian bawang merah yang telah panen mencapai 3,5 hektare dengan provitas 10 ton untuk setiap hektare.
Lalu hingga akhir November diperkirakan akan mencapai 4,1 hektare dan pada bulan Desember diperkirakan mencapai 5,55 hektare.
“Untuk cabai merah, pada Oktober tercatat 23 hektare lahan yang sudah panen dengan provitas 7 ton per hektare. Untuk November diperkirakan 21,5 hektare dan Desember diperkirakan 22 hektare,” tutupnya.
Sementara itu M Ridha menyebutkan, saat ini keltan yang dipimpinnya memiliki 17 anggota yang mengolah lahan seluas, 22 hektare.
“15 hektare lahan merupakan lahan pertanian padi, sedangkan 7 hektare lainnya merupakan lahan pertanian Komoditas holtikultura, berupa cabai merah dan bawang merah serta sejumlah komoditas lainnya,” ujar dia.
Ia mengapresiasi BI yang telah memberikan perhatian terhadap kegiatan pertanian. Sebab, program ini dapat mendorong kelancaran produksi dan distribusi Komoditas yang diharapkan nantinya dapat meningkatkan produktivitas petani.
Surplus Beras hingga Minyak Goreng
Sementara itu, menjelang akhir tahun, stok pangan di Kabupaten Agam dipastikan dalam kondisi aman. Sejumlah komoditas pokok bahkan tercatat surplus.
Termasuk beras, minyak goreng, gula pasir, serta telur ayam ras. Meski demikian, harga cabe merah masih menjadi pemicu inflasi karena belum kembali ke level normal.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Agam Rosva Deswira menyampaikan, beras menjadi komoditas dengan ketersediaan paling aman.
Total stok beras sejauh ini mencapai sekitar 88 ribu ton, sementara kebutuhan masyarakat hanya sekitar 63 ribu ton. “Artinya hingga akhir tahun masih surplus sekitar 25 ribu ton,” ujarnya.
Surplus ini juga didorong program SPM yang meningkatkan produktivitas sawah 20 sampai 30 persen dibanding pola konvensional.
Minyak goreng juga dalam kondisi terkendali. Dari total stok 6.340 ton, kebutuhan masyarakat hanya 6.061 ton, sehingga masih menyisakan surplus 279 ton.
Begitu pula gula konsumsi, dengan ketersediaan 3.277 ton dan kebutuhan 3.120 ton, sehingga tersisa 157 ton.
Data stok ini dihimpun dari barang masuk ke berbagai toko dan distributor di seluruh Agam, mencakup kebutuhan rumah tangga, hotel, restoran, rumah makan, dan pelaku usaha lainnya.
Untuk telur ayam ras, distribusi dari sentra produksi Limapuluh Kota, Tanahdatar, dan Payakumbuh menopang kebutuhan masyarakat Agam.
Ketersediaannya mencapai 13.725 ton, sementara konsumsi sekitar 13.308 ton, sehingga masih ada surplus 417 ton.
Rosva menegaskan, fluktuasi harga telur sangat dipengaruhi harga pakan, terutama jagung. “Selama harga jagung stabil, harga telur juga relatif terkendali,” tuturnya.
Di sisi lain, harga cabai merah keriting masih tinggi Rp 70 ribu per kilogramdibanding harga normal yang berkisar Rp 50 ribu. Produksi cabai Agam umumnya tersebar di sentra Lubukbasung, Tanjungraya, Matur, Tilatangkamang, Kamangmagek, Candung, hingga Sungaipua.
Pasokan daerah ini juga disokong kiriman dari daerah laur, seperti Aceh dan Alahanpanjang—biasanya mengalir deras menjelang Natal dan Tahun Baru.
Baca Juga: Harga Emas di Pasar Raya Padang Fluktuatif, Pedagang dan Pembeli Masih Wait and See
“Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab produksi menurun. Stok cabai merah sangat bergantung pasokan dan cuaca, salah satunya beberapa wilayah sentra cabai Agam sempat mengalami kekeringan beberapa bulan lalu. Begitu suplai terputus-putus, harga langsung fluktuatif,” kata Rosva.
Ia menambahkan, secara umum, harga pangan pada Kamis (6/11) tidak banyak bergerak dibanding beberapa hari sebelumnya.
Hanya dua komoditas mengalami perubahan yakni cabai merah keriting turun Rp 10 ribu, sementara daging ayam ras naik dari Rp 65 ribu menjadi Rp 70 ribu per ekor.
Rosva menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir pada musim liburan akhir tahun. “Stok aman, harga terkendali, dan pengawasan terus kami lakukan untuk memastikan pasokan berjalan lancar,” tutupnya.
Stok Aman jelang Akhir Tahun
Kepala Dinas Pangan Sumbar Iqbal Ramadi Payana memastikan ketersediaan stok pangan strategis aman hingga akhir tahun 2025.
“Secara umum, stok hingga Desember 2025 dipastikan mencukupi untuk semua komoditas. Hanya saja, ada kemungkinan fluktuasi harga pada cabai merah dan bawang merah, dua komoditas yang memang sensitif terhadap perubahan cuaca dan pasokan,” ujar Iqbal.
Untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat, Dinas Pangan Sumbar terus melaksanakan program pangan murah di berbagai daerah. Kegiatan ini dilakukan secara rutin setiap hari kerja menggandeng sejumlah distributor dan pelaku usaha lokal.
Menurutnya, langkah ini terbukti efektif membantu masyarakat mendapatkan bahan pokok dengan harga terjangkau, terutama di tengah dinamika harga menjelang akhir tahun.
Komoditas yang disediakan dalam program tersebut meliputi beras, minyak goreng, telur, cabai merah, bawang merah, gula pasir, dan tepung terigu.
Pihaknya juga menggencarkan koordinasi dengan kabupaten dan kota untuk memastikan jalur distribusi berjalan lancar serta tidak ada penimbunan di tingkat pedagang.
Di sisi lain, program stabilisasi harga melalui pangan murah diharapkan mampu menekan inflasi daerah, khususnya dari sektor bahan makanan.
“Harapannya, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap isu kelangkaan atau lonjakan harga. Pemerintah hadir memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pangan bagi seluruh lapisan masyarakat Sumatera Barat,” pungkasnya. (rna/ptr/cr1)
Editor : Novitri Selvia