Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dua Nagari di Agam Tanggap Darurat Kekeringan, Warga Bergantung Air Tangki

Putra Susanto • Rabu, 19 November 2025 | 11:32 WIB

SUPLAI AIR BERSIH: BPBD Agam menyalurkan air bersih ke warga terdampak kekeringan di Padanglaweh, Sungaipua, baru-baru ini.
SUPLAI AIR BERSIH: BPBD Agam menyalurkan air bersih ke warga terdampak kekeringan di Padanglaweh, Sungaipua, baru-baru ini.

PADEk.JAWAPOS.COM-Krisis air bersih kembali menghantam sejumlah wilayah di Kabupaten Agam.

Setelah Ampekangkek dan Canduang, kini Nagari Padangpaweh (Kecamatan Sungaipua) dan Gadut (Kecamatan Tilatangkamang) resmi berstatus tanggap darurat kekeringan. Sumur warga mengering, jaringan Pamsimas tak lagi mengalir.

Status tanggap darurat ditetapkan melalui SK Bupati Agam Nomor 374 Tahun 2025. Masa darurat berlangsung sebulan, 7 November hingga 6 Desember 2025.

“Penetapan ini dilakukan sebagai langkah cepat merespons kesulitan warga mendapatkan air bersih,” kata Kalaksa BPBD Agam, Rahmad Lasmono, didampingi Kabid Kedaruratan dan Logistik, Abdul Ghapur, Senin (18/11).

Tercatat tiga jorong terdampak, masing-masing Kubu dan Talao di Padanglaweh, serta Jorong PGRM di Gadut.

BPBD mengerahkan mobil tangki dua hari sekali. Padanglaweh dipasok 10 meter kubik tiap pengiriman untuk 500 KK, sementara Gadut dialokasikan 5 ribu meter kubik bagi 250 KK.

Menurutnya, kondisi sumber air sudah kritis. Meski hujan mulai turun di sejumlah wilayah, sumur dan jaringan Pamsimas belum pulih. Warga masih bergantung pada air tangki BPBD dan PDAM untuk kebutuhan MCK dan minum.

Ini bukan kekeringan pertama tahun ini. Awal September lalu, Agam juga menetapkan status darurat akibat kemarau panjang. Terdapat belasan nagari di Ampekangkek dan Canduang juga dilanda krisis air.

Selama masa tanggap darurat, lebih dari 1,1 juta liter air didistribusikan. Akhir September, curah hujan meningkat dan sejumlah sumber air kembali mengalir. Status darurat pun dicabut. Namun, BPBD menegaskan tetap siaga.

“Kalau nanti ada laporan sumur mengering lagi, suplai air akan langsung kami aktifkan lagi ke wilayah tersebut,” kata Rahmad.

Pemkab Agam mengimbau warga untuk hemat air, menampung air hujan, dan bersiap menghadapi cuaca ekstrem. Kekeringan berulang ini, tegasnya, menjadi alarm nyata dampak perubahan iklim yang tak lagi bisa dianggap enteng. (ptr)

Editor : Novitri Selvia
#Canduang Agam #BPBD Agam #Nagari Padangpaweh #krisis air bersih