PADEK.JAWAPOS.COM-Kondisi Nagari Salarehaie, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam masih berada dalam situasi darurat pascabencana banjir bandang dan galodo yang melanda wilayah itu akhir November lalu.
Rumah-rumah warga masih dipenuhi lumpur tebal, akses jalan terputus, dan listrik belum kembali menyala.
Meski bantuan sudah mulai masuk, warga mengaku persediaan hanya cukup untuk beberapa hari, sementara kebutuhan pada satu pekan mendatang sangat mengkhawatirkan.
Salah seorang warga Salarehaie sekaligus relawan dari Himpunan Mahasiswa Salareh Agam (HIMSA), Afdal Oktrisna mengatakan di Nagari Salareh Aia Timur, akses menuju Jorong Subarangaia kini hanya bisa dilalui melalui jembatan darurat dari kayu.
Kondisi tersebut masih jauh dari aman, namun menjadi satu-satunya jalur agar bantuan dapat mencapai lokasi terdampak. Jorong lainnya sudah bisa dilewati kendaraan, tetapi medan yang licin dan rawan longsor membuat perjalanan sangat berisiko.
Sementara itu, di Nagari Salarehaie Pusat, situasi lebih berat. Jorong Kayu Pasak Selatan hingga hari ini masih belum memiliki akses sama sekali.
Tidak ada jembatan darurat atau jalur alternatif yang bisa digunakan masyarakat maupun relawan. Meski demikian, sejumlah logistik telah sampai, namun jumlahnya terbatas dan hanya cukup dimasak warga yang terisolasi untuk bertahan hidup.
“Di Jorong Kayupasak, akses sudah terbuka, tetapi tim di lapangan masih berjibaku melakukan pencarian korban. Menurut warga, masih banyak penduduk yang belum ditemukan setelah tersapu material galodo. Lumpur pekat, bongkahan kayu, dan batu besar memenuhi area perkampungan sehingga proses pencarian berlangsung lambat,” ujarnya.
Ia juga mengatakan sejumlah titik pengungsian menjadi tumpuan warga yang keluarganya selamat dan tidak memiliki tempat tinggal layak. Pengungsian tersebar di SDN 5 Kayupasak, Kampungtangah, SDN 7 Kotoalam, dan Pasar Kotoalam.
Selain itu, diduga masih ada posko lain yang belum terdata karena sulit dijangkau. Di tempat-tempat ini, kebutuhan dasar seperti makanan dan pakaian mulai terbantu, tetapi koordinasi distribusi masih menemui hambatan akibat akses jalan yang rusak dan minimnya relawan yang bergerak ke wilayah ini.
Dikatakan, situasi saat ini sangat sulit. Listrik padam total, jembatan putus, dan aktivitas ekonomi benar-benar lumpuh. Mayoritas warga menggantungkan hidup pada hasil bertani, namun sawah dan ladang mereka rusak parah diseret arus galodo.
Ia menjelaskan bahwa bantuan dari berbagai pihak sudah mulai masuk dan cukup untuk beberapa hari ke depan. Namun, stok tidak akan mencukupi hingga satu minggu mendatang.
Kekhawatiran ini muncul karena minimnya saluran logistik dan tidak adanya pemasukan yang bisa diandalkan warga dalam waktu dekat.
Dalam kondisi terbatas ini, HIMSA menjadi pihak yang paling aktif dan konsisten memberikan bantuan.
Mereka tidak hanya menyalurkan sembako, tetapi juga terjun langsung membantu proses evakuasi, pembersihan rumah warga, dan memberikan dukungan psikologis di lapangan.
Mereka menyebut ada relawan dari luar, tetapi yang paling intens bekerja setiap hari adalah para anggota HIMSA.
Ia berharap pemerintah daerah dan pusat segera meningkatkan bantuan, khususnya untuk memperbaiki akses ke wilayah yang masih terisolasi.
Mereka juga menilai kehadiran lebih banyak relawan sangat dibutuhkan untuk mempercepat pembersihan rumah, distribusi bantuan, serta pencarian korban yang belum ditemukan.
“Yang kami takutkan bukan hari ini, tapi satu minggu ke depan. Kalau tidak ada tambahan relawan dan bantuan lanjutan, kami benar-benar kewalahan,” ujar Afdal.
Hingga kini, masyarakat Nagari Salarehaie masih berjuang di tengah keterbatasan sambil berharap perhatian serius dari pihak berwenang.
Bencana yang menghancurkan ladang, rumah, dan sarana vital ini telah mengubah kehidupan ribuan warga dalam sekejap. Tanpa dukungan jangka panjang, masa pemulihan di kawasan ini diprediksi akan berjalan sangat berat.
Akses jalan ke Sungai Landia Terbuka
Sementara itu, Akses jalan menuju Nagari Sungailandia, Kabupaten Agam, kembali terbuka setelah wilayah itu terisolasi selama delapan hari akibat tanah longsor yang memutus jalur utama dari dua arah.
Menurut Wali Nagari Sungai Landia, Refli Suhelmi, Rabu (3/12) mengatakan jalur dari arah Bukittinggi–Balingka kini sudah dapat dilewati kendaraan roda dua.
“Alhamdulillah setelah delapan hari kejadian, jalur dari arah Bukittinggi Balingka sudah bisa dilewati dengan sepeda motor,” ujarnya.
Sebelumnya, daerah ini terisolasi akibat tanah longsor yang menutup ruas jalan. Longsor terbesar terjadi di Pintu Angin yang memutus total akses keluar masuk ke Sungai Landia.
“Bantuan dua alat berat dan gotong royong warga bersama pemerintah desa mempercepat pembukaan jalan,” kata Refli.
Ia menyebutkan tidak terdapat korban jiwa, namun tiga unit rumah hanyut terbawa longsoran dan banjir bandang pada Rabu (27/11) lalu di Sungai Landia.
“Ada 10 titik longsor di jalan desa dan 15 titik jalan provinsi. Kondisi karena kami di lokasi rawan di perbukitan dan aliran sungai,” katanya.
Sekitar 1.500 warga dari tiga jorong di Sungai Landia kini mendapat akses mendapatkan bantuan dari luar sekaligus bisa kembali beraktivitas.
“Tapi ada 16 saluran irigasi yang hancur. Mayoritas warga kami adalah petani, dibutuhkan sembako yang cukup saat ini sampai mereka bisa memanen lagi,” kata Refli.
Posko bantuan yang dipusatkan di kantor desa aktif menyalurkan bantuan yang terkumpul melalui becak motor.
Puluhan mahasiswa dan relawan juga ikut membantu proses pembersihan jalan dan rumah warga yang sempat terkena longsoran dan banjir bandang.
Warga berharap aliran listrik dan telekomunikasi yang masih lumpuh hingga saat ini bisa berfungsi kembali. (cr1/ant)
“Untuk menghubungi kerabat dan keluarga, kami harus menempuh jarak hingga lima kilometer ke jalur terjal mendaki agar dapat sinyal. Listrik juga tidak hidup lagi, terpaksa memakai lilin untuk penerangan,” kata seorang warga di Jorong Ranah Sungai Landia, Nurani. (cr1/ant)
Editor : Novitri Selvia