Di balik angka itu, tragedi yang lebih pahit mencuat, 26 jiwa dari lingkungan sekolah meninggal, sementara sejumlah guru masih hilang dan terisolasi. Kerusakan yang begitu masif membuat sebagian besar sekolah tidak bisa digunakan.
Banyak ruang kelas hanyut, peralatan belajar rusak, dan sebagian gedung retak serta tertimbun material longsor. Ribuan siswa kehilangan tempat belajar, sementara guru harus menghadapi duka dan tekanan psikologis di tengah tanggung jawab membimbing siswa.
Di tengah kondisi itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, turun langsung ke Agam melihat langsung skala kerusakan, Jumat (5/12). Mu’ti menyampaikan duka mendalam atas musibah yang merenggut banyak jiwa, termasuk guru dan pelajar. Ia juga memberi dukungan moral kepada guru dan siswa agar tetap kuat di tengah kondisi berat pascabencana.
“Kami melihat proses pembersihan sekolah sudah berjalan dan berharap aktivitas belajar dapat segera pulih. Pemulihan layanan pendidikan menjadi prioritas utama kami,” tegas Mu’ti saat berada di SMPN 1 Tanjungraya.
Data Pemkab Agam menunjukkan bencana menghantam 102 unit sekolah. Terdiri dari 22 unit TK/PAUD, 65 sekolah dasar dan 15 unit SMP. Total kerugian yang di timbulkan diperkirakan mencapai Rp 11,466 miliar.
Di balik kerusakan fisik itu, dunia pendidikan Agam juga menanggung duka mendalam, karena tercatat enam guru dan 20 siswa meninggal dunia, sementara beberapa lainnya dirawat akibat luka-luka. Tiga guru masih dinyatakan hilang dan sepuluh guru terisolasi pada hari-hari awal bencana.
Untuk merespons kerusakan luas ini, Kemendikdasmen menyalurkan bantuan pemulihan sarana, santunan bagi siswa yang meninggal, serta bantuan bagi guru yang rumahnya terdampak. School kit dibagikan kepada pelajar, sementara family kit diserahkan kepada keluarga terdampak.
Mu’ti juga memastikan layanan psikososial (trauma healing) diberikan untuk siswa TK hingga SMP, mengingat sebagian anak menyaksikan langsung rumah hancur, keluarga hilang, hingga teman sekelas yang tidak kembali.
Wakil Bupati Agam, Muhammad Iqbal, menyebut bencana ini meninggalkan “beban berat” bagi dunia pendidikan Agam. “Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Menteri atas bantuan yang diberikan. Ini dukungan penting untuk mempercepat pemulihan sekolah dan keluarga terdampak,” ujarnya.
Kunjungan Mendikdasmen menjadi sinyal kuat bahwa pemulihan pendidikan di Agam masuk prioritas nasional. Dengan dukungan pusat dan kolaborasi daerah, proses belajar-mengajar ditargetkan bisa segera kembali berlangsung aman, nyaman, dan menyeluruh.
171 Meninggal, 85 masih Hilang
Secara keseluruhan, jumlah korban meninggal akibat rangkaian bencana hidrometeorologi di Kabupaten Agam terus meningkat. Hingga Kamis (4/12) pukul 20.00, tercatat 171 orang meninggal, termasuk 31 jenazah yang belum teridentifikasi, sementara 85 warga lainnya masih dinyatakan hilang.
Data tersebut dirilis Posko Penanggulangan Bencana Kabupaten Agam dan menggambarkan betapa luas dan beratnya dampak bencana yang melanda sejak 19 November. Hujan ekstrem yang tidak berhenti hampir dua pekan memicu banjir, banjir bandang, tanah longsor, hingga angin kencang di 16 kecamatan.
“Ini bukan bencana kecil. Ini darurat kemanusiaan besar. Dampaknya merata di hampir seluruh kecamatan, dan angka korbannya terus bergerak,” ujar Kepala Dinas Kominfo Agam, Roza Syafdefianti, Kamis malam.
Selain menimbulkan korban jiwa, bencana ini juga memaksa 21.523 warga terdampak meninggalkan rumah. Sebanyak 11.624 jiwa masih bertahan di lokasi pengungsian, sedangkan 33 warga dirawat akibat luka-luka.
Kerusakan infrastruktur dilaporkan sangat luas. Pemerintah mencatat 404 rumah rusak ringan, 721 rumah rusak berat, dan 252 rumah rusak sedang.
Jaringan penghubung antarwilayah juga lumpuh akibat 26 jembatan rusak dan 110 titik jalan terdampak, meski sembilan di antaranya telah berhasil dibuka. Sejumlah fasilitas umum seperti 37 tempat ibadah turut mengalami kerusakan.
Di sektor pertanian dan peternakan, kerusakan tidak kalah besar. Lebih dari 1.754 hektare lahan pertanian rusak, 4.894 hewan ternak mati, serta sejumlah pelaku usaha ikut terdampak. Perhitungan sementara menyebut total kerugian ekonomi mencapai Rp 626,07 miliar.
Roza menyebutkan, hingga kemarin petugas di lapangan masih berjibaku membersihkan material longsor, membuka akses kampung yang terisolasi, serta melanjutkan pencarian warga hilang. Akses yang terputus membuat beberapa nagari belum bisa ditembus sehingga distribusi bantuan logistik diprioritaskan untuk wilayah-wilayah yang sulit dijangkau.
“Upaya pencarian korban hilang terus berlangsung. Tim gabungan bekerja siang malam, sementara distribusi bantuan difokuskan ke nagari yang masih terisolasi,” ujarnya.
Bencana besar yang menghantam hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Agam ini diperkirakan masih menyisakan pekerjaan pemulihan panjang, terutama untuk memastikan akses, hunian, dan layanan publik dapat kembali berjalan normal. (ptr)
Editor : Adetio Purtama