Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Rektor Yarsi Fasli Jalal Tegaskan Pentingnya Trauma Healing dan Kurikulum Kebencanaan di Sumbar

Rian Afdol • Selasa, 9 Desember 2025 | 10:19 WIB

PEDULI: Rektor Universitas Yarsi Prof. Dr Fasli Jalal saat mengunjungi daerah terdampak bencana di Kecamatan Matur Kabupaten Agam, Minggu, (7/12).
PEDULI: Rektor Universitas Yarsi Prof. Dr Fasli Jalal saat mengunjungi daerah terdampak bencana di Kecamatan Matur Kabupaten Agam, Minggu, (7/12).

PADEK.JAWAPOS.COM-Rektor Universitas Yarsi Prof. Dr. Fasli Jalal menekankan pentingnya layanan trauma healing bagi korban terdampak bencana, khususnya anak-anak, guna memastikan tumbuh kembang mereka tetap berjalan optimal pascabencana.

Hal tersebut disampaikannya saat menyalurkan bantuan bagi korban terdampak bencana di Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Minggu (7/12).

Fasli menyebut trauma healing menjadi kebutuhan mendasar yang tidak boleh diabaikan setelah bencana, terutama bagi anak-anak yang rentan mengalami tekanan psikologis.

“Trauma healing penting agar anak-anak tidak menyimpan luka psikologis berkepanjangan. Peristiwa bencana tidak boleh menghambat tumbuh kembang mereka,” ujar Fasli.

Kegiatan kemanusiaan tersebut merupakan hasil kolaborasi Universitas Yarsi, Diaspora Minang Network, dan Global Insan Cita Foundation.

Bantuan disalurkan ke sejumlah wilayah terdampak, mulai dari Kota Padang, Kecamatan Palembayan, hingga Kecamatan Matur di Kabupaten Agam.

“Selain bantuan sembako, kami juga menghadirkan instruktur dan pelatih untuk memberikan pendampingan trauma healing bagi anak-anak,” katanya.

Tak hanya menyasar anak-anak, pendampingan psikososial juga diberikan kepada para guru. Menurut Fasli, guru memiliki peran strategis karena berinteraksi langsung dengan anak setiap hari.

“Di Palambayan, kami melibatkan 20 guru dari 10 sekolah. Mereka kami bekali pemahaman untuk mengenali perubahan perilaku siswa sebelum dan sesudah bencana,” jelasnya.

Fasli mengingatkan trauma yang tidak tertangani berpotensi membekas hingga dewasa. Dampaknya bisa berupa perubahan perilaku seperti mudah marah, membangkang, hingga kecenderungan menghindari masalah.

“Karena itu, guru, orang tua, dan perangkat nagari harus memiliki pemahaman yang sama agar trauma pada anak bisa dicegah sejak dini,” tegasnya.

Selain bantuan sembako dan layanan trauma healing, tim relawan juga menyalurkan bantuan perlengkapan ibadah berupa mukena, sarung, dan sajadah, serta bantuan genset dan perangkat sound system di beberapa titik terdampak bencana.

Kurikulum Kebencanaan Perlu Digalakkan

Dalam kesempatan tersebut, Fasli Jalal juga menyoroti pentingnya penerapan kurikulum kebencanaan secara masif di wilayah rawan bencana seperti Sumatera Barat.

“Sebenarnya kurikulum kebencanaan sudah ada, lengkap dengan modul dan pelatihannya. Namun, pelaksanaannya belum merata dan belum dilakukan secara masif,” ungkapnya.

Menurutnya, pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, perlu memastikan kurikulum kebencanaan benar-benar diimplementasikan di seluruh satuan pendidikan.

“Dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi, sekolah harus menjadi garda terdepan dalam membangun kesiapsiagaan bencana,” kata Fasli.

Senada dengan itu, Pimpinan Diniyah Putri Fauziah Fauzan El Muhammady menegaskan pentingnya pendidikan kebencanaan diberikan di semua jenjang pendidikan.

“Mulai dari TK hingga perguruan tinggi, peserta didik harus dibekali pengetahuan mitigasi dan cara merespons bencana,” ujarnya. (rna)

Editor : Novitri Selvia
#Diaspora Minang Network #trauma healing anak #Matur #Fasli Jalal #Palembayan Agam