Untuk menopang cakupan layanan itu, 28 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah beroperasi. Dalam waktu dekat, dua unit baru akan menyusul. Meski jaringan layanan kian meluas, pemerintah daerah menegaskan standar mutu dan keamanan pangan tidak boleh turun.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Agam, Rosva Deswira, meninjau kesiapan dua SPPG baru di Sungaijariang dan SPPG Polres Agam, Lubukbasung, Senin (2/2). Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan perluasan layanan berjalan seiring dengan terjaganya kualitas pelayanan dan keamanan pangan.
”Saat ini sudah ada 28 SPPG yang beroperasi di Agam dengan penerima manfaat sebanyak 63.861 orang. Dua titik ini kita pastikan dulu semuanya tersedia dan aman sebelum beroperasi. Kita tidak ingin layanan dibuka tapi belum siap,” ujar Rosva.
Pemkab Agam menegaskan seluruh SPPG yang telah beroperasi telah mengantongi sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS) sebagai prasyarat keamanan pangan. Namun, bertambahnya unit layanan juga menuntut pengawasan yang lebih ketat agar standar yang sama tetap terjaga di lapangan.
Pengalaman operasional 28 SPPG selama ini menjadi bahan evaluasi untuk mengantisipasi berbagai persoalan klasik, mulai dari kesiapan sumber daya manusia, konsistensi pasokan bahan pangan, hingga ketepatan distribusi. Pemerintah daerah menilai, perluasan jaringan layanan harus diiringi dengan penguatan sistem, bukan sekadar menambah jumlah unit.
Dalam dialog dengan pengelola SPPG, Rosva kembali menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor. Keberhasilan Program MBG, menurutnya, tidak bisa ditopang satu OPD semata. Peran dinas kesehatan, dinas pendidikan, pemerintah nagari, hingga unsur keamanan dibutuhkan agar layanan berjalan aman, tepat sasaran, dan berkelanjutan.
Dengan cakupan penerima manfaat yang telah mencapai puluhan ribu jiwa, perluasan SPPG memang memperluas akses layanan gizi. Namun kualitas, konsistensi, dan pengawasan tetap menjadi ”ujian” utama agar program strategis nasional ini benar-benar berdampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar ramai di awal. (*)
Editor : Eri Mardinal