Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Agam, Andri, menyatakan komitmen untuk memberikan perhatian tambahan terhadap penguatan budaya baca di satuan pendidikan.
“Menyalakan literasi akan mencerdaskan anak negeri,” ujar Andri saat memoderatori materi yang disampaikan pegiat literasi Firdaus Abie mengenai strategi menumbuhkan budaya baca dan memperkuat kemampuan literasi sebagai pondasi peningkatan kualitas pendidikan.
Kegiatan tersebut dihadiri peserta pengembangan literasi dari berbagai sekolah, termasuk perwakilan kepala SD dan SMP se-Kabupaten Agam.
Dalam sesi diskusi, sejumlah peserta mengajukan pertanyaan kepada Firdaus Abie maupun kepada Andri terkait implementasi program literasi di sekolah masing-masing.
Andri mengakui bahwa perencanaan kegiatan yang baik tetap membutuhkan dukungan pendanaan yang memadai agar dapat berjalan optimal.
Ia menyebutkan bahwa selama ini banyak sekolah telah bergerak dengan langkah dan strategi masing-masing, namun masih terdapat aspek yang perlu ditingkatkan, termasuk dukungan anggaran.
“Nanti akan kita bahas bersama untuk anggaran tahun berikutnya,” kata Andri yang disambut meriah peserta diskusi.
Sebelum sesi tanya jawab, Firdaus Abie memaparkan konsep “Tiga Langkah Hebat” dalam pengembangan literasi sekolah yang dirumuskan berdasarkan pengalaman lapangan mendampingi pelajar, guru, dan mahasiswa di ratusan lokasi dengan puluhan ribu penerima manfaat.
Ia menegaskan seluruh langkah tersebut terintegrasi dalam penguatan literasi sebagai bagian dari ekosistem sekolah.
Firdaus Abie, penulis novel berbahasa Minang “Indang Talok Den Kanai Ati” yang kini menjabat Direktur Harian Posmetro Padang, menyoroti pendekatan disiplin di sekolah yang dinilainya perlu disesuaikan dengan tujuan pendidikan.
Ia menyampaikan bahwa sanksi fisik seperti hormat bendera atau mengumpulkan sampah bagi siswa terlambat tidak lagi relevan jika tidak terhubung dengan pengembangan kompetensi.
Menurutnya, sanksi dan capaian positif siswa maupun guru dapat diintegrasikan dengan kegiatan literasi sehingga setiap aktivitas di sekolah berkontribusi pada peningkatan kemampuan membaca dan memahami bacaan.
Ia juga memberikan contoh pendekatan bertahap bagi siswa yang belum lancar membaca dengan menyediakan buku bergambar yang sesuai tingkat kemampuan.
Dalam diskusi, seorang guru SMP mengungkapkan bahwa di sekolahnya masih terdapat siswa yang belum mampu membaca dengan baik.
Menanggapi hal tersebut, Firdaus Abie menyarankan pemilihan bahan bacaan yang tepat agar siswa dapat meningkatkan kemampuan membaca secara bertahap hingga lancar.
Diskusi ini menjadi bagian dari upaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Agam dalam memperkuat literasi sekolah sebagai dasar peningkatan mutu pendidikan di daerah.(*)
Editor : Hendra Efison