Kak Ani Sendirian Produksi 20 Ribu hingga 25 Ribu Batu Bata dengan Cara Tradisional

Hendra Efison • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 10:00 WIB
Kak Ani mengerjakan proses produksi batu bata secara tradisional di UMKM Berkah Bersama, Nagari Koto Baru, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam. (Dok Mhs KKN UNP 2026)
Kak Ani mengerjakan proses produksi batu bata secara tradisional di UMKM Berkah Bersama, Nagari Koto Baru, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam. (Dok Mhs KKN UNP 2026)

BASO, PADEK.JAWAPOS.COM – Kak Ani, pengelola UMKM Berkah Bersama di Nagari Koto Baru, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, masih mempertahankan cara tradisional dalam memproduksi batu bata. Seluruh proses produksi dikerjakannya sendiri, mulai dari mencampur tanah dan pasir, mencetak, mengeringkan, hingga membakar batu bata.

Dalam sekali pembakaran yang berlangsung selama tiga hari tiga malam, usaha tersebut mampu menghasilkan sekitar 20.000 hingga 25.000 batu bata. Proses produksi yang panjang itu tetap dijalankan dengan cara tradisional karena hasilnya telah dipercaya pelanggan.

“Kami masih menggunakan cara tradisional karena hasilnya sudah dipercaya pelanggan. Prosesnya memang cukup lama, mulai dari pencampuran tanah dan pasir, pencetakan, pengeringan, hingga pembakaran selama tiga hari tiga malam,” ujar Kak Ani, Sabtu (1/8/2026).

Kisah produksi tersebut menjadi bagian yang didokumentasikan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Negeri Padang (KKN UNP) dalam program pendampingan digitalisasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Nagari Koto Baru.

Seluruh Proses Dikerjakan Sendiri

Tim KKN UNP memilih UMKM Berkah Bersama sebagai salah satu dari empat usaha lokal yang mendapat pendampingan.

Bentuk pendampingan untuk usaha tersebut berupa pembuatan video dokumenter yang merekam proses produksi batu bata secara langsung.

Dokumentasi itu memperlihatkan tahapan produksi yang dilakukan secara tradisional. Mulai dari mencampur tanah dan pasir, mencetak batu bata, mengeringkannya, hingga memasuki tahap pembakaran.

Seluruh rangkaian tersebut dikerjakan sendiri oleh Kak Ani tanpa bantuan pekerja lain.

Proses pembakaran menjadi salah satu tahapan yang membutuhkan waktu paling panjang, yakni berlangsung selama tiga hari tiga malam.

Melalui video dokumenter tersebut, mahasiswa KKN UNP berupaya memperkenalkan proses produksi UMKM Berkah Bersama kepada masyarakat yang lebih luas.

Dokumentasi itu juga menjadi arsip visual mengenai proses produksi tradisional yang selama ini dijalankan.

Punya Toko Bangunan di Dua Lokasi

Selain memproduksi batu bata, UMKM Berkah Bersama juga memiliki toko bangunan. Usaha tersebut memiliki dua cabang, masing-masing berada di Simpang Ampek Koto Baru dan Simpang Canduang, Sungai Beringin.

Kedua toko tersebut buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB.

Pendampingan mahasiswa KKN UNP menjadi bagian dari upaya memperkenalkan usaha lokal di Nagari Koto Baru melalui media digital.

Program tersebut tidak hanya menyasar usaha produksi, tetapi juga UMKM lain dengan kebutuhan pendampingan yang berbeda.

Secara keseluruhan, tim KKN UNP mendampingi empat UMKM di Nagari Koto Baru. Bentuknya meliputi pembuatan titik lokasi di Google Maps, desain spanduk usaha, hingga video dokumenter profil usaha.

Bagi UMKM Berkah Bersama, dokumentasi proses produksi menjadi sarana untuk memperkenalkan aktivitas usaha yang selama ini dilakukan secara tradisional kepada masyarakat yang lebih luas. (*)

Editor : Hendra Efison
Kak Ani batu bata UMKM Berkah Bersama batu bata Koto Baru UMKM Kabupaten Agam KKN UNP