Banjir Berulang di Padang Baru Lubukbasung, PUPR Siapkan Rp7 Miliar untuk Benahi Drainase

Yuharnel • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 16:38 WIB
Jalan di depan GOR Rang Agam, Lubukbasung, menjadi aliran limpasan air dari drainase saat hujan lebih dari satu jam karena kapasitas drainase tidak lagi memadai.
Jalan di depan GOR Rang Agam, Lubukbasung, menjadi aliran limpasan air dari drainase saat hujan lebih dari satu jam karena kapasitas drainase tidak lagi memadai.

PADEK.JAWAPOS.COM– Persoalan genangan yang berulang di kawasan Padang Baru, Kecamatan Lubukbasung, Kabupaten Agam, mendorong pemerintah menyiapkan pembenahan sistem drainase secara bertahap. Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUPR) Agam telah menyiapkan masterplan penanganan luapan air sekaligus anggaran sekitar Rp7 miliar.

Kepala Dinas PUPR Kabupaten Agam, Ofrizon, mengatakan masterplan tersebut mencakup penanganan drainase di sejumlah kawasan ibu kota Kabupaten Agam. Di antaranya Lapau Talang, Simpang Empat Tapi, Ujung Labuh, Simpang Tembok, hingga drainase jalan di kawasan Padang Baru.

“Bahkan kita sudah anggar sebanyak Rp7 miliar untuk melakukan rehab drainase dalam kawasan Padang Baru. Namun karena keterbatasan anggaran, saat ini kita cuma bisa mengangsur pembenahan secara bertahap,” kata Ofrizon kepada PADEK.JAWAPOS.COM.

Menurut dia, pembenahan drainase tidak dapat dilakukan sekaligus. Pemerintah menyesuaikan pelaksanaannya dengan kemampuan anggaran yang tersedia.

Untuk 2026, salah satu titik drainase di kawasan Pasar Padang Baru mulai mendapat penanganan melalui perubahan anggaran. Pekerjaan tersebut memiliki pagu dana Rp400 juta.

“Untuk tahun ini dalam perubahan anggaran 2026 ada satu titik di kawasan Pasar Padang Baru mulai direhab drainase dengan pagu dana Rp400 juta,” jelasnya.

Persoalan drainase tersebut sebelumnya disampaikan Wali Jorong IV Surabayo, Nagari Lubukbasung, Rino Syamna Putra. Ia mengatakan kawasan Padang Baru kerap mengalami genangan ketika hujan deras berlangsung lebih dari satu jam.

Menurut Rino, salah satu persoalan berkaitan dengan kapasitas saluran yang tidak mencukupi. Perubahan tata guna lahan dari kawasan persawahan menjadi kawasan perkotaan juga membuat sejumlah saluran irigasi berfungsi ganda sebagai drainase.

Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, debit air yang masuk ke saluran meningkat. Jika kapasitas saluran tidak sebanding dengan volume air, genangan kemudian berpotensi meluas ke badan jalan dan kawasan permukiman.

Genangan bahkan sempat terjadi di Jalan Jenderal Sudirman, mulai kawasan sekitar Simpang GOR Rang Agam di depan Kantor Kejaksaan Negeri Agam hingga Simpang Lampu Merah Padang Baru. Ketinggian air di badan jalan mencapai sekitar 5 hingga 15 sentimeter.

Rino menilai penanganan persoalan tersebut tidak cukup dilakukan ketika genangan sudah muncul. Evaluasi perlu mencakup kapasitas saluran, kondisi gorong-gorong, titik penyempitan, sedimentasi, serta hubungan antara saluran irigasi dan drainase.

Pemeliharaan saluran juga menjadi bagian penting. Sampah, sedimentasi maupun bangunan yang menghambat aliran dapat memperkecil kapasitas saluran sehingga air lebih cepat meluap ketika hujan deras.

Dengan Padang Baru sebagai salah satu kawasan penting di pusat Lubukbasung, genangan yang berulang tidak hanya mengganggu aktivitas warga. Kondisi tersebut juga berpotensi menghambat lalu lintas, aktivitas perdagangan dan pelayanan masyarakat.

Rino berharap persoalan tersebut tidak hanya ditangani secara parsial. Pemetaan titik rawan genangan dan pembenahan sistem drainase secara terintegrasi diperlukan agar persoalan serupa tidak terus berulang.

“Karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase menjadi langkah penting untuk menjawab harapan masyarakat,” pintanya.(*)

Editor : Hendra Efison
Padang Baru drainase Agam PUPR Agam banjir Agam Lubukbasung