PADEK.JAWAPOS.COM — Warga RK III Muaro, Jorong IV Surabayo, Nagari Lubukbasung, Kecamatan Lubukbasung, Kabupaten Agam, berharap pembangunan bandar permanen segera dilanjutkan untuk mengatasi luapan air yang selama puluhan tahun menggenangi jalan, pekarangan rumah, dan lahan pertanian.
Luapan air dari bandar yang belum seluruhnya didam itu kerap terjadi saat hujan deras.
Air menggenangi jalan utama dengan ketinggian sekitar 30 sentimeter atau lebih, sekaligus mengikis bahu jalan dan menyebabkan aspal di bagian pinggir terkelupas.
St. Sati Mamsurdin, warga RK III Muaro, mengatakan bandar tersebut memiliki fungsi penting bagi masyarakat.
Selain menyalurkan air, bandar itu juga menjadi jalur pengairan bagi lahan pertanian warga Muaro.
“Bandar ini sangat penting bagi masyarakat, terutama untuk mengaliri lahan pertanian. Namun, kondisinya belum seluruhnya didam. Dari panjang sekitar satu kilometer yang melintasi jalan utama RK III Muaro, baru separuh yang sudah didam, sedangkan separuh lainnya masih belum,” ujarnya.
Luapan Air Ancam Jalan dan Lahan Pertanian
Menurut St. Sati, bagian bandar yang belum didam membuat kawasan permukiman dan jalan utama rentan terdampak luapan air ketika hujan turun.
Air tidak hanya mengalir ke badan jalan, tetapi juga masuk ke pekarangan rumah dan meluap ke lahan persawahan.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran warga terhadap kerusakan jalan yang menjadi akses utama masyarakat.
Bahu jalan yang terus terkikis air dikhawatirkan mengalami kerusakan lebih parah apabila persoalan itu tidak segera ditangani.
“Kalau tidak segera ditangani, kami khawatir jalan utama Muaro terancam putus. Pekarangan rumah dan lahan pertanian masyarakat juga berisiko terdampak karena terus diterjang luapan air dari bandar tersebut,” katanya.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Agam melanjutkan pembangunan bandar permanen pada bagian yang belum didam.
Pembangunan tersebut diharapkan dapat mengurangi luapan air yang selama ini mengganggu akses jalan dan mengancam lingkungan permukiman serta lahan pertanian.
Bagi masyarakat setempat, keberadaan bandar permanen juga berkaitan dengan kelancaran pengairan lahan pertanian.
Karena itu, warga menginginkan penanganan yang dapat mendukung fungsi saluran air sekaligus melindungi infrastruktur jalan.
Warga Berharap Penanganan Segera
Setiap kali hujan deras turun, warga kembali menghadapi persoalan serupa, mulai dari jalan yang tergenang hingga bahu jalan yang terkikis aliran air.
Masyarakat berharap pembangunan tidak terus tertunda agar kerusakan tidak semakin meluas.
Hingga berita ini ditulis, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Agam, Ofrizon, belum memberikan tanggapan atas konfirmasi yang disampaikan melalui pesan singkat WhatsApp.(*)