PADEK.JAWAPOS.COM— Pembangunan kembali Jembatan Bukik Batabuah di Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, ditargetkan selesai pada 13 Desember 2026. Hingga pertengahan Oktober, progres fisik proyek senilai Rp3,537 miliar tersebut telah mencapai sekitar 55 persen, menandai berlanjutnya pemulihan akses transportasi setelah jembatan lama hancur diterjang banjir bandang dan lahar dingin Gunung Marapi pada Mei 2024.
Pembangunan jembatan permanen ini menjadi bagian dari pemulihan infrastruktur pascabencana melalui dukungan Dana Transfer ke Daerah (TKD) Tambahan untuk Kabupaten Agam. Proyek mulai dikerjakan pada 5 Agustus 2026 dengan masa pelaksanaan 150 hari kalender.
Direktur CV Midya Karya, Delfa Oktra, mengatakan pekerjaan saat ini berfokus pada penyelesaian struktur penahan jembatan. Abutment pertama telah selesai, sedangkan abutment kedua masih dalam pengerjaan.
“Pekerjaan fisik pembangunan Jembatan Bukik Batabuah ini sudah kami mulai sejak 5 Agustus 2026 dengan alokasi anggaran Rp3.537.044.588. Sampai saat ini, progres pengerjaan telah mencapai kurang lebih 55 persen dan kami menargetkan rampung sepenuhnya pada 13 Desember 2026,” kata Delfa, Selasa (13/10/2026).
Menurut Delfa, kondisi dasar sungai yang dipenuhi batuan vulkanik berukuran besar menjadi salah satu tantangan utama. Perubahan debit air dari hulu juga memengaruhi pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
Untuk mempercepat penyelesaian, kontraktor mengerahkan 12 pekerja dan dua unit ekskavator. Penggalian pondasi dilakukan hingga kedalaman 10 meter dari permukaan jalan utama guna mendukung konstruksi jembatan permanen.
Pembangunan kali ini tidak hanya berorientasi pada pengembalian fungsi jalan. Desain jembatan juga diperbarui berdasarkan kebutuhan mitigasi bencana. Pilar tengah yang terdapat pada jembatan lama dihilangkan agar material kayu dan batu yang terbawa arus tidak mudah tersangkut pada struktur penyangga.
Alur sungai yang semula sekitar sembilan meter dilebarkan menjadi 20 meter dan diperdalam sekitar dua meter. Jarak vertikal dari dasar sungai ke lantai jembatan dirancang enam meter, sedangkan lebar total jembatan mencapai delapan meter.
Wali Nagari Bukik Batabuah, Firdaus, mengatakan pembangunan jembatan permanen merupakan kelanjutan dari penanganan darurat yang sebelumnya dilakukan melalui jembatan kayu dan Jembatan Bailey.
“Jembatan baru ini sangat vital karena menghubungkan Nagari Bukik Batabuah, Lasi, Canduang, Sungai Pua, hingga Kubang Putiah, sekaligus menjadi rute alternatif lintas Provinsi Sumatera Barat–Riau,” ujarnya.
Keberadaan jembatan tersebut berpengaruh terhadap aktivitas masyarakat, khususnya distribusi hasil pertanian dan perjalanan antarnagari. Selama akses langsung belum pulih, warga harus memutar melalui kawasan Baso sejauh sekitar tiga kilometer dengan tambahan waktu perjalanan sekitar 20 menit.
Asril, petani di Jorong Kubang Duo Koto Panjang, berharap penyelesaian jembatan dapat menekan biaya perjalanan dan mengembalikan kelancaran pengangkutan hasil kebun.
“Harapan kami, jembatan ini tidak hanya kokoh menahan bencana, tapi juga membuka akses ekonomi di Bukik Batabuah agar UMKM warga kembali bergairah,” katanya.
Pemulihan infrastruktur di Kabupaten Agam tidak hanya dilakukan melalui pembangunan Jembatan Bukik Batabuah. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Agam, Ofrizon, menyebutkan 17 jembatan telah menyelesaikan proses tender, sementara lima jembatan prioritas sudah memasuki tahap pengerjaan fisik.
Kelima jembatan tersebut adalah Jembatan Bukik Batabuah, Jembatan Pandan Banyak, Jembatan MTSN Balingka, Jembatan Tigo Kampuang, dan Jembatan Sungai Asam.
Nilai kontrak Jembatan Pandan Banyak mencapai Rp1,754 miliar, sedangkan Jembatan MTSN Balingka sebesar Rp1,193 miliar. Jembatan Tigo Kampuang memiliki nilai kontrak sekitar Rp599 juta. Adapun nilai kontrak Jembatan Bukik Batabuah mencapai Rp3,537 miliar.
Ofrizon mengatakan pemulihan jembatan ditujukan untuk memperkuat konektivitas wilayah dan memulihkan aktivitas sosial ekonomi masyarakat. Pemerintah daerah juga melakukan pengawasan agar pelaksanaan pekerjaan mengikuti perencanaan teknis dan target waktu.
Dengan target penyelesaian pada 13 Desember 2026, Jembatan Bukik Batabuah diharapkan segera kembali melayani mobilitas warga dan pengguna jalur alternatif Sumatera Barat–Riau. Penyelesaian proyek tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah memulihkan infrastruktur yang rusak akibat bencana. (Tim Media Satgas PRR)
Editor : Tandri Eka Putra