Di tengah riuh dunia olahraga Sumatera Barat yang terus bergerak melahirkan prestasi baru, kabar duka datang hampir bersamaan. Dua sosok yang telah lama mewarnai perjalanan olahraga Ranah Minang, Ustaz Drs. H. Munandar Maska dan legenda angkat berat Thio Hok Seng, berpulang dalam waktu yang berdekatan.
Keduanya bukan sekadar nama dalam catatan prestasi, melainkan bagian dari sejarah panjang pengabdian olahraga Sumatera Barat—satu di arena pembinaan dan wasit karate, satu lagi di podium dunia angkat berat.
Prestasi yang ditoreh ke dua insan olahraga Sumbar ini patut diacungi jempol. Semangat dan dedikasinya adalah warisan yang ditinggalkan untuk generasi muda.
“ Saya pernah membuat tulisan karangan khasnya yang dimuat di Jawapos grup Februari 2008. Dari tulisan yang saya tulis Thio Hok Seng pekerja keras dan berdedikasi tinggi terhadap olahraga yang ditekuninya,”ujar Hendri Parjiga wartawan olahraga senior Sumbar itu ketika dikonfirmasi Padang Eskpres tadi malam.
Hok Seng adalah atlet berprestasi pada 1980-an. Dia mengharumkan nama Sumbar, bahkan Indonesia, ke tingkat dunia pada cabang olahraga angkat berat.
Prestasi terbaik dicapai saat dia mengantongi medali emas di kejuaraan dunia pada 1987 di Lima, Peru. Tahun berikutnya (1988) dia mempertahankan predikat juara dunia itu di Luksemburg. Pria tamatan sekolah menengah pertama (SMP) itu juga memecahkan rekor dalam angkatan deadlift 226 kilogram di Jerman pada 1988, sekaligus meraih medali emas.
“Ya, kedua orang ini menjadi contoh atlet muda kita bahwa kerja keras dan dedikasi tidak akan mengkhianati hasil akhir. Warisan ini yang perlu kita contoh,” ujar Parjiga serius.
Sementara, Ketua KONI Sumatera Barat, Hamdanus, tidak mampu menyembunyikan rasa kehilangan. Ia menyebut keduanya sebagai figur panutan yang meninggalkan jejak keteladanan.
“Sumatera Barat kehilangan dua tokoh olahraga yang sangat kami hormati. Seorang wasit dan pelatih karate yang berdedikasi, berpengalaman, pribadi yang menyejukkan dan penuh keteladanan. Seorang lagi legenda angkat berat Sumbar yang sudah mendunia. Keduanya sosok panutan dalam olahraga,” ujar Hamdanus, Selasa (12/5).
Sebagai bentuk penghormatan terakhir, jajaran KONI Sumbar mendatangi dua rumah duka. Rombongan terlebih dahulu mengikuti prosesi di Masjid Raya Ganting, tempat almarhum H. Munandar Maska disalatkan, dan mengunjungi rumah duka Himpunan Tjinta Teman (HTT) di kawasan Pondok.
Pengabdian yang Berakhir di Arena Tugas
Kepergian Ustaz Drs. H. Munandar Maska menyisakan cerita yang mengharukan. Ia wafat saat menjalankan tugas sebagai wasit dalam Kejuaraan Nasional Karate di Bandung, Jawa Barat. Di tengah jalannya pertandingan, ia sempat tidak sadarkan diri sebelum dinyatakan meninggal dunia pada pukul 17.05 WIB.
Jenazahnya kemudian diterbangkan ke Padang dan disemayamkan di Masjid Raya Ganting, tempat yang juga menjadi ruang pengabdiannya semasa hidup. Ia meninggalkan seorang istri, tiga anak, dan seorang cucu.
Lahir di Padang pada 30 Agustus 1962, Munandar Maska dikenal bukan hanya sebagai sosok di dunia olahraga, tetapi juga di dunia dakwah. Alumni UIN Imam Bonjol Padang angkatan 1991 ini juga pernah mengabdi di Masjid Raya Ganting, salah satu masjid bersejarah di Indonesia.
Di mata banyak orang, Munandar sosok yang hangat, tenang, dan dekat dengan siapa pun yang mengenalnya. Ia pergi saat masih berada di tengah pengabdian yang dicintainya.
Sang Legenda Angkat Berat dari Ranah Minang
Di sisi lain, dunia olahraga Sumbar juga kehilangan Thio Hok Seng, sosok yang lebih akrab disapa Hok Seng. Namanya tercatat sebagai salah satu legenda angkat berat Indonesia yang pernah mengharumkan nama bangsa di tingkat dunia.
Perjalanan kariernya dimulai dari latihan sederhana di usia muda. Hanya dalam waktu satu tahun, ia sudah tampil di Pra-PON 1984. Setahun kemudian, ia mempersembahkan medali emas untuk Sumatera Barat pada PON XI di Jakarta hingga medali emas dunia untuk ibu pertiwi.
Atas dedikasinya itu, pada 2007 ia mendapatkan penghargaan dari Kemenpora berupa sebuah unit rumah sebagai apresiasi kepada mantan atlet berprestasi di tingkat internasional.
Di balik gemerlap prestasi itu, perjalanan hidupnya tidak seindah perjalanan karirnya sebagai olahragawan. Setelah pensiun, Hok Seng menjalani kehidupan yang jauh dari sorotan publik. Ia bekerja serabutan, mulai dari membantu pengurusan surat kendaraan hingga melatih atlet angkat berat demi menghidupi keluarga.
Meski demikian, kecintaannya pada olahraga tidak pernah padam. Sejak 2010, ia tetap mengabdikan diri sebagai pelatih dengan penghasilan sederhana. Ia juga aktif dalam kegiatan sosial dan organisasi Himpunan Tjinta Tjeman (HTT), termasuk membantu berbagai kegiatan kemanusiaan.
Kebanggaan terbesarnya bukan hanya medali, tetapi juga keberlanjutan jejaknya. Putrinya, Pretty Meri, kini mengikuti langkahnya sebagai atlet wushu tingkat umur.
Warisan yang Tak Pergi Bersama Waktu
Kepergian dua tokoh ini meninggalkan ruang kosong dalam dunia olahraga Sumatera Barat. Namun di balik duka, tersimpan jejak panjang pengabdian yang akan terus dikenang.
“Semoga amal ibadah almarhum H. Munandar Maska diterima Allah SWT dan keluarga diberikan ketabahan. Untuk Hok Seng, semoga tenang di sisi Yang Maha Kuasa,” ujar Hamdanus menutup ungkapan duka.
Dua perjalanan berbeda, dua cabang olahraga berbeda, namun satu hal yang sama: dedikasi tanpa henti untuk dunia yang mereka cintai. Sumatera Barat kehilangan, tetapi warisan mereka tetap hidup. (rel/juf)
Editor : Adriyanto Syafril