PADEK.JAWAPOS.COM -- Langkah PSP Padang di ajang Liga 4 Nasional harus terhenti di babak 32 besar. Tim berjuluk Pandeka Minang itu gagal melaju ke fase berikutnya setelah takluk 0-1 dari Persma Manado pada laga terakhir Grup S yang digelar di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, Senin (15/6) sore.
Hasil tersebut membuat harapan PSP Padang untuk melanjutkan kiprah di kompetisi kasta nasional itu pupus. Meski tampil menekan dan berupaya menguasai jalannya pertandingan, skuad asuhan Joni Efendi belum mampu membalikkan keadaan hingga peluit panjang dibunyikan.
Pelatih Kepala PSP Padang, Joni Efendi, mengatakan para pemain sebenarnya telah berjuang maksimal sepanjang pertandingan. Namun, hasil akhir belum sesuai dengan harapan tim.
“Dewi fortuna belum berpihak kepada kita. Sepanjang pertandingan anak-anak berusaha memberikan yang terbaik dan terus menekan permainan lawan. Ya, kita sudah berusaha, tetapi segala keputusan tetap di tangan Tuhan,” ujar Joni saat dihubungi Padang Ekspres melalui telepon genggam, Senin (15/6).
Selain menyoroti hasil pertandingan, Joni juga menyayangkan beberapa keputusan wasit yang dinilainya kurang menguntungkan timnya. Ia menilai terdapat sejumlah momen yang seharusnya bisa menjadi keuntungan bagi PSP Padang, namun tidak mendapatkan keputusan sesuai harapan. “Kami cukup menyayangkan beberapa keputusan wasit selama pertandingan. Namun, apa pun hasilnya tetap harus kami hormati dan terima sebagai bagian dari pertandingan,” katanya.
Joni Efendi, menilai pertandingan tidak hanya ditentukan aspek teknis di lapangan, tetapi juga dipengaruhi non teknis yang berdampak terhadap kosentrasi pemain di lapangan.
Mantan pemain PSP dan Semen Padang itu mengatakan, puncak kekecewaan tm berjuluk Pandeka Minang ini terjadi menjelang berakhirnya pertandingan. Ia menyoroti satu momen yang menurutnya menjadi keputusan krusial dan sangat berpengaruh terhadap hasil akhir laga. Insiden tersebut terjadi pada menit ke-85 ketika PSP Padang melihat pemain Persma Manado menyentuh bola di kotak pinalti, namun sayang wasit tak bergeming. “ Ini yang memicu emosi pemain dan merugikan tim secara keseluruhan, “ ujarnya.
Situasi semakin memanas setelah pertandingan berakhir. Kekalahan yang dialami PSP Padang tidak hanya menyisakan kekecewaan di atas lapangan, tetapi juga memunculkan insiden di luar lapangan.
Meski gagal melangkah lebih jauh, Joni tetap mengapresiasi perjuangan para pemain yang telah menunjukkan semangat juang tinggi sepanjang turnamen. Ia berharap pengalaman tampil di Liga 4 Nasional menjadi modal berharga bagi para pemain untuk berkembang pada kompetisi berikutnya.
Kegagalan di babak 32 besar menjadi bahan evaluasi bagi manajemen dan tim pelatih PSP Padang. Sejumlah aspek, mulai dari penyelesaian akhir, konsistensi permainan, hingga kesiapan menghadapi pertandingan-pertandingan krusial akan menjadi perhatian ke depan.
Bagi PSP Padang, keikutsertaan di Liga 4 Nasional tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga kesempatan untuk mengukur kemampuan tim menghadapi persaingan antardaerah. Meski langkah mereka terhenti, perjuangan Pandeka Minang tetap mendapat apresiasi dari para pendukung yang terus memberikan dukungan sepanjang kompetisi berlangsung. (juf)
Editor : Adriyanto Syafril