PADEK.JAWAPOS.COM - Upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya kualitas tidur bagi kesehatan terus dilakukan oleh RSUP Dr. M. Djamil Padang. Melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan, rumah sakit tersebut menggelar edukasi kesehatan bagi pasien dan keluarga pasien di ruang kemoterapi, Kamis (4/6).
Kegiatan edukatif tersebut menghadirkan narasumber dr. Eldi Sauma, Sp.JP, yang menyampaikan materi tentang gangguan tidur, faktor penyebabnya, serta dampak yang dapat ditimbulkan terhadap kesehatan fisik maupun mental.
Dalam pemaparannya, dr. Eldi menjelaskan bahwa tidur merupakan kebutuhan dasar manusia yang memiliki peran penting dalam menjaga fungsi tubuh dan otak. Menurutnya, manusia menghabiskan sekitar sepertiga masa hidupnya untuk tidur, sehingga kualitas istirahat tidak boleh dianggap sepele.
“Manusia tidur sekitar sepertiga dari waktu hidupnya. Tidur dibutuhkan agar otak dapat berfungsi dengan baik. Meskipun sering dianggap sebagai aktivitas pasif, sebenarnya tidur melibatkan aktivitas otak yang sangat tinggi,” ujar dr. Eldi di hadapan peserta edukasi.
Ia menjelaskan, selama tidur tubuh menjalankan berbagai proses biologis yang sangat penting. Salah satunya adalah memperbaiki sel-sel yang mengalami kerusakan akibat aktivitas sehari-hari.
Selain itu, tidur juga membantu otak memproses berbagai informasi dan pengalaman yang diperoleh sepanjang hari sehingga meningkatkan kemampuan seseorang dalam mengingat dan memahami informasi.
Menurut dr. Eldi, manfaat tidur tidak hanya terbatas pada pemulihan fisik, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan mental dan kemampuan kognitif. “Fungsi tidur sangat banyak, mulai dari memperbaiki sel-sel yang rusak, memproses ingatan yang dipelajari sehingga membantu daya ingat, mengatur emosi, memperkuat sistem imun, hingga meningkatkan kemampuan kognitif seseorang,” jelasnya.
Kualitas Tidur Lebih Penting dari Durasi
Dalam kesempatan tersebut, dr. Eldi juga menekankan bahwa kualitas tidur lebih penting dibanding sekadar lamanya waktu tidur.
Ia menjelaskan bahwa setiap orang memiliki kebutuhan tidur yang berbeda. Ada kelompok short sleeper yang hanya membutuhkan waktu tidur kurang dari enam jam per hari dan tetap dapat beraktivitas normal, serta long sleeper yang membutuhkan waktu tidur lebih dari sembilan jam.
Namun, menurutnya, kualitas tidur yang baik ditentukan oleh berlangsungnya siklus tidur secara normal, yaitu melalui fase Non-Rapid Eye Movement (NREM) dan Rapid Eye Movement (REM).
Kedua fase tersebut memiliki fungsi penting dalam proses pemulihan tubuh dan otak selama seseorang beristirahat. “Tidur yang berkualitas bukan hanya soal durasi, tetapi juga bagaimana siklus tidur NREM dan REM berlangsung secara sempurna sesuai fisiologi tidur,” katanya.
dr. Eldi mengingatkan bahwa gangguan tidur dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan yang tidak boleh diabaikan.
Selain menyebabkan rasa lelah dan mengantuk pada siang hari, kurang tidur atau kualitas tidur yang buruk juga dapat memengaruhi emosi, daya ingat, serta kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi. Bahkan dalam jangka panjang, gangguan tidur berpotensi meningkatkan risiko munculnya penyakit degeneratif.
“Gangguan tidur dapat menyebabkan gangguan emosi, mengganggu memori, menurunkan perhatian dan kewaspadaan, serta meningkatkan risiko terjadinya penyakit degeneratif seperti Alzheimer,” ungkapnya.
Banyak Faktor Penyebab Gangguan Tidur
Lebih lanjut, dr. Eldi menjelaskan bahwa gangguan tidur dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik yang berasal dari lingkungan maupun kondisi psikologis seseorang.
Faktor lingkungan meliputi suhu kamar yang tidak nyaman, kebisingan, pencahayaan yang terlalu terang, hingga rasa nyeri yang dialami seseorang.
Sementara dari sisi psikologis, stres, kecemasan, dan depresi menjadi penyebab yang paling sering ditemukan. Selain itu, sejumlah penyakit tertentu, terutama yang berkaitan dengan fungsi otak dan sistem saraf, juga dapat memicu kesulitan tidur.
“Tidak hanya itu, berbagai proses penyakit tertentu, terutama yang berkaitan dengan fungsi otak, juga dapat mengakibatkan seseorang mengalami kesulitan tidur,” ujarnya.
Terapkan Sleep Hygiene untuk Tidur Lebih Berkualitas
Sebagai langkah pencegahan, dr. Eldi mengajak masyarakat untuk menerapkan pola tidur sehat atau sleep hygiene dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menyarankan agar masyarakat membiasakan diri tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari untuk membantu tubuh menjaga ritme biologis secara alami.
“Biasakan tidur dan bangun di sekitar jam yang sama setiap hari. Kebiasaan sederhana ini sangat membantu tubuh menjaga pola tidur yang sehat,” katanya.
Dari sisi pola makan, ia mengimbau agar masyarakat menghindari konsumsi makanan berat menjelang waktu tidur. Idealnya, makan dilakukan sekitar dua jam sebelum beristirahat.
Jika masih merasa lapar, konsumsi buah atau makanan ringan dalam jumlah yang wajar dapat menjadi pilihan. “Makan sebaiknya dua jam sebelum jam tidur. Tetapi jika masih lapar, boleh mengonsumsi buah atau makanan ringan sebelum tidur,” ujarnya.
Olahraga dan Cooling Down Sebelum Tidur
Selain menjaga pola makan, olahraga secara teratur juga dapat membantu meningkatkan kualitas tidur. Menurut dr. Eldi, aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin akan membuat tubuh lebih rileks dan memudahkan seseorang memasuki fase tidur yang berkualitas.
Ia juga menyarankan masyarakat menyediakan waktu sekitar satu jam sebelum tidur untuk melakukan proses cooling down atau relaksasi.
Masa transisi tersebut dapat dimanfaatkan dengan melakukan aktivitas yang menenangkan serta menghindari hal-hal yang memicu stres maupun stimulasi berlebihan. “Berikan waktu sekitar satu jam untuk tubuh beristirahat sebelum tidur atau melakukan cooling down agar tubuh. (rel)
Editor : Adriyanto Syafril