Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pembesaran Kelenjar Tiroid Belum Tentu Kanker

jpg • Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:50 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

PADEK.JAWAPOS.COM -- Pembesaran kelenjar tiroid selalu membuat panik dan menghubungkannya dengan kanker, padahal tidak benar. Dokter mengi­ngatkan masyarakat agar ti­dak langsung panik ketika menemukan benjolan atau pembesaran di area leher karena sebagian besar kasus justru bersifat jinak.

Dokter Spesialis Penya­kit Dalam subspesialis Hematologi-Onkologi, Prof. Dr. dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD, KH­OM menegaskan bahwa mayoritas pembesaran kelenjar tiroid atau benjolan tiroid bukanlah kanker dan hanya sebagian kecil yang ber­kem­bang menjadi keganasan.

“Sebagian besar pem­be­sa­­ran kelenjar tiroid itu jinak. Ke­mungkinan kanker sedikit. Ja­­di memang diperlukan tim ahli untuk menentukannya. Kemudian tidak semua benjolan tiroid berpotensi men­jadi kanker,” katanya, Kamis (25/6).

Ia menyarankan agar ma­syarakat sebaiknya tidak me­lakukan diagnosis sendiri ketika menemukan benjolan pada kelenjar tiroid. Penentuan apakah suatu benjolan bersifat jinak atau ganas ha­rus dilakukan oleh tenaga medis melalui pemeriksaan yang tepat.

“Pada prinsipnya harus ke dokter, tidak boleh oleh awam. Itu nanti yang melakukan pemeriksaan misalnya USG atau pemeriksaan scan tiroid. Kemudian dari situ dinilai kemungkinan suspek kanker. Kalau ternyata amat tersangka kanker baru lanjut dengan biopsi,” tuturnya.

Prof. Zubairi menjelaskan bahwa langkah pertama dalam penanganan benjolan tiroid adalah memastikan terlebih dahulu apakah benjolan tersebut merupakan kanker. Diagnosis dapat ditegakkan melalui biopsi atau tindakan operasi untuk mengambil sampel jaringan.

“Pertama harus yakin dulu bahwa itu kanker, jadi ya dengan biopsi atau dengan operasi. Kemudian setelah dilihat patologi anatomi terbukti kanker tiroid, pada prinsipnya operasinya sebanyak mungkin jaringan tiroidnya dibuang,” katanya.

Setelah tindakan operasi, terapi lanjutan dapat diberikan untuk mengatasi sisa sel kanker yang masih ada. Salah satu metode yang digunakan adalah terapi yodium radioaktif.

“Nah setelah itu sisanya, kanker sisanya itu diobatinya dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan mengonsumsi yodium radioaktif,” imbuhnya.

Ia juga menjelaskan bahwa pembesaran tiroid yang bersifat jinak dapat disebabkan oleh sejumlah faktor. Di antaranya adalah kekurangan yodium, penyakit autoimun seperti tiroiditis Ha­shi­moto, serta penyakit Gra­ves yang memengaruhi fungsi kelenjar tiroid.

Karena itu, Zubairi me­ngimbau masyarakat agar tidak langsung mengaitkan pembesaran kelenjar tiroid dengan kanker. Pemeriksaan medis sejak dini tetap penti­ng dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti sekaligus menentukan penanga­nan yang tepat. (jpg)

Editor : Adriyanto Syafril
#Ayo Sehat