Intensitas hujan yang tinggi membuat debit air di Batang Kayu Manang meluap. Ini menimbulkan banjir bandang yang menerjang Nagari Surian, Kecamatan Pantaicermin, Kabupaten Solok, sekitar pukul 18.00, kemarin. Arus air besar meluap ke area pemukiman warga, menggenangi jalan dan area pertanian warga setempat.
”Kejadiannya jelang Maghrib tadi, saat ini kami merangkum informasi,” ujar Kalaksa BPBD Kabupaten Solok Irwan Efendy saat dihubungi Padang Ekspres, Rabu (20/12) malam.
Nagari Surian berjarak sekitar kurang lebih 50 kilometer dari Kantor Bupati Solok di Arosuka. Nagari ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Solok Selatan.
Irwan menyebut, saat ini ia belum bisa memastikan jumlah kerusakan materil yang disebabkan oleh banjir tersebut. Meskipun demikian dia menyampaikan, dari video laporan, ada jembatan yang terlihat putus akibat banjir tersebut.
”Yang jelas memang ada beberapa hektare lahan pertanian warga terdampak oleh banjir bandang itu, karena umumnya banyak yang menggarap lahan di pinggir sungai, jumlah pastinya kami belum tahu,” ungkapnya. Dia menyampaikan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas PUPR dan Dinas Sosial.
Terpisah, Kalaksa BPBD Sumbar Rudy Rinaldy mengatakan bahwa meluapnya Batang Kayu Manang mengakibatkan rusaknya lahan pertanian, 6 unit jembatan rusak dan akses jalan nagari terganggu.
Hingga berita ini ditulis, tercatat ada beberapa kerusakan infrastruktur, di antaranya 6 jembatan yang menghubungkan antar jorong, antar nagari maupun akses ke lahan pertanian, dengan rincian 1 jembatan di Bagiek Jorong Kototinggi, 2 jembatan Batupanjang Jorong Kototinggi, dan 3 jembatan di Taluakbatuang Jorong Kototinggi, kemudian pabrik tahu mengalami kerusakan ringan, serta beberapa saluran irigasi juga mengalami kerusakan.
Hingga Rabu malam, terangnya, kondisi cuaca di lokasi kejadian hujan ringan. ”Untuk akses jalan nasional yang menghubungkan Kabupaten Solok-Solok Selatan sudah lancar, untuk dampak keseluruhan belum bisa kami pastikan,” ungkapnya.
Butuh Langkah Nyata Penyelamatan
Di sisi lain, Kabupaten Limapuluh Kota yang menjadi perlintasan aliran sejumlah sungai besar, sulit mengelak dari bencana banjir dan longsor sewaktu-waktu. Terutama saat curah hujan tinggi. Kondisi itu diperparah dengan kerusakan hutan, akibat alih fungsi lahan untuk perkebunan, pemukiman dan penggunaan lainnya.
Sehingga, hutan yang secara alami berfungsi menjadi wadah serapan air, tidak lagi berfungsi sempurna. Alhasil, saat curah hujan tinggi air akan dikirim dengan cepat melalui aliran sungai disertai dengan material erosi yang ikut terbawa hingga ke hilir sungai.
Hal itu disampaikan Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Limapuluh Kota Rahmadinol kepada Padang Ekspres, kemarin.
”Hutan yang berfungsi sebagai resapan air, mulai berkurang akibat adanya alih fungsi lahan di sepanjang aliran Batang Harau. Sehingga, perlu upaya bersama secara serius untuk bisa merawat dan menjaga kondisi alam yang mulai rusak. Jika tidak akan berdampak lebih buruk lagi kedepannya,” tekannya.
Selain itu, dia mengingkatkan, jika kondisi tangkapan air di sepanjang aliran sungai sudah tidak lagi baik, erosi akan mudah terjadi. Sehingga material yang terbawa bersama air, akan mengendap pada dasar sungai di daerah yang lebih rendah.
”Artinya, terjadi sedimentasi yang menyebabkan pendangkalan sungai. Sehingga, saat debit air tinggi sungai tidak mampu lagi mengalirkan air dan menyebabkan air meluap keluar dari jalur sungai yang seharusnya,” terangnya.
Jadi, butuh upaya bersama semua pihak, masyarakat sehingga pemerintah harus melakukan tindakan nyata, mulai dari reboisasi, normalisasi sungai hingga penataan kawasan agar air bisa terserap dengan baik.
Pemerhati lingkungan Kabupaten Limapuluh Kota Budi Febriandi menilai, banjir yang terjadi di Kecamatan Harau di Nagari Harau, Tarantang, Solok Bio-Bio dan Nagari Sarilamak, Senin lalu, merupakan yang terparah sejak 15 tahun terakhir. Fenomena banjir, sudah berulang kali terjadi, tapi hanya selalu berakhir di meja diskusi saja.
”Kita bicarakan ketika banjir terjadi, setelah itu tidak lagi. Bahkan solusi-solusi yang disampaikan tidak pernah mendapat tanggapan yang memadai dari Pemerintahan Kabupaten Limapuluh Kota hingga Provinsi Sumatera Barat,” ucapnya.
Misalnya saja, kata Budi, di Ibukota Kabupaten (IKK) Sarilamak, potensi ancaman banjir ini pernah disampaikan oleh konsultan perencana ketika penyusunan Master Plan IKK sekitar tahun 2002 lalu.
Mestinya pelaksanaan pembangunan IKK sudah mengantisipasi masalah ini dari awal dengan pembangunan drainase perkotaan dan normalisasi Batang Harau, Batang sanipan dan Batang Sinamar.
Alih-alih mengantisipasi ancaman banjir yang sudah disampaikan, pemkab dinilai abai dengan perizinan untuk kegiatan yang memanfaatkan ruang yang seharusnya menjadi kawasan konservasi di bangun untuk kepentingan destinasi wisata, homestay, perumahan, kompleks pendidikan dan pembukaan lahan pertanian.
”Jika ini masih berlanjut dan pemkab masih melakukan pembiaran, maka potensi banjir yang lebih besar akan kembali terjadi, Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota diharapkan serius untuk melakukan pembenahan yang terencana dan berkelanjutan,” harap Budi Febriandi.
Beberapa hal yang mesti segera dilakukan menurut Budi Febriandi, ada melakukan tindakan konservasi hutan dan lahan. Sebab pembukaan lahan besar-besaran di atas atau hulu sungai harus dikendalikan.
Kemudian lahan-lahan yang berada lereng yang rawan erosi dan sudah terlanjur dibuka untuk pertanian diharuskan menerapkan pertanian ramah lingkungan yang menerapkan teknik konservasi.
”Selanjutnya, perizinan alih fungsi lahan harus diperketat dengan kajian dampak lingkungan, dalam hal ini pemerintah harus mengontrol dan mengawasi, apakah para pengembang ini mematuhi Amdalnya atau tidak, pengusaha atau pengembang-pengembang yang tidak patuh harus diberikan sanksi yang tegas,” saran Budi.
Selanjutnya untuk pembangunan Sistem Drainase Perkotaan di kawasan IKK Sarilamak. Pembangunan Sistem Drainase Perkotaan ini merupakan kebutuhan yang sangat mendesak dan perlu disegerakan.
”Terakhir, normalisasi Batang Harau, Batang Sanipan dan Batang Sinamar. Sebab salah satu penyebab banjir ini adalah semakin menurunnya kapasitas sungai, oleh karenanya normalisasi perlu dilakukan secara berkelanjutan,” sebut Budi Febriandi. (frk/fdl) Editor : Novitri Selvia