Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Survei Terbaru Ungkap 75% Perusahaan Tidak Puas dengan Kinerja Gen Z: Benarkah?

Heri Sugiarto • Jumat, 27 September 2024 | 02:59 WIB

ilustrasi Gen Z. (foto: linkedin)
ilustrasi Gen Z. (foto: linkedin)
PADEK.JAWAPOS.COM-Banyak perusahaan di berbagai sektor bisnis di seluruh dunia mengungkapkan, telah memberhentikan pekerja dari kalangan generasi Z (Gen Z) hanya beberapa bulan setelah dipekerjakan.

Berdasarkan survei terbaru yang dilakukan oleh Intelligent.com, para pengusaha merasa ragu untuk merekrut lulusan baru karena mengkhawatirkan etos kerja, keterampilan komunikasi, dan kesiapan mereka menjalani pekerjaan secara profesional.

Survei yang dilakukan terhadap hampir 1.000 pemimpin bisnis ini menunjukkan bahwa 60% perusahaan telah memutuskan hubungan kerja dengan karyawan Gen Z tahun ini.

Selain itu, satu dari tujuh pengusaha menyatakan bahwa mereka kemungkinan besar tidak akan merekrut lulusan baru pada tahun depan.

Salah satu alasan utamanya adalah kurangnya kemampuan komunikasi dan rendahnya profesionalisme yang ditunjukkan oleh karyawan Gen Z.

Penasihat Pendidikan dan Pengembangan Karier dari Intelligent, Huy Nguyen, menjelaskan bahwa banyak lulusan baru merasa kesulitan beradaptasi dengan dunia kerja yang sangat berbeda dari dunia pendidikan.

“Peralihan dari bangku pendidikan ke dunia kerja sering kali terasa sulit bagi lulusan baru. Mereka harus berhadapan dengan lingkungan kerja yang kurang terstruktur, dinamika budaya perusahaan, serta tuntutan untuk bekerja secara mandiri,” ujar Nguyen.

Nguyen juga menambahkan bahwa meskipun para lulusan ini memiliki pengetahuan teoretis dari perguruan tinggi, mereka sering kali kekurangan pengalaman praktis serta soft skills seperti komunikasi dan kerja sama yang sangat dibutuhkan di dunia kerja. Hal ini membuat banyak perusahaan merasa ragu dalam merekrut mereka.

Lebih lanjut disampaikannya, Generasi Z yang lahir di era digital dan tumbuh dalam budaya teknologi, sering kali dianggap memiliki sifat negatif seperti kurangnya motivasi, perhatian yang singkat, serta kecenderungan untuk lebih fokus pada keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Dalam survei tersebut, 75% perusahaan menyatakan bahwa sebagian atau seluruh lulusan baru yang mereka rekrut menunjukkan kinerja yang tidak memuaskan.

Sekitar setengah dari pengusaha yang disurvei menyebut bahwa Gen Z cenderung kurang termotivasi dalam pekerjaan mereka. Sementara 39% lainnya mengungkapkan bahwa generasi ini lemah dalam keterampilan komunikasi.

Selain itu, hampir 46% responden menilai bahwa profesionalisme karyawan Gen Z jauh di bawah harapan.

“Sangat mudah bagi manajer untuk mempercayai stereotip umum tentang Gen Z dan mengabaikan mereka sepenuhnya. Namun, perusahaan juga memiliki tanggung jawab mempersiapkan lulusan baru untuk lingkungan kerja mereka dan memberi mereka kesempatan terbaik untuk sukses,” kata Nguyen.

Sejumlah ahli menyebutkan bahwa salah satu penyebab masalah ini adalah sistem pendidikan yang lebih banyak menekankan teori daripada praktik.

“Pendidikan saat ini lebih menekankan teori daripada praktik. Tentu, mempelajari mitologi Yunani itu menarik, tetapi bagaimana hal itu mempersiapkan Anda untuk berkomunikasi secara efektif dalam rapat perusahaan atau menunjukkan profesionalisme? Itu tidak ada hubungannya,” tegas Bryan Driscoll, seorang konsultan HRseperti dilansir Newsweek.

Driscoll menambahkan bahwa pengusaha kini menuntut keterampilan yang tidak menjadi prioritas dalam sistem pendidikan. Ketika lulusan baru kemudian tidak memenuhi harapan, perusahaan juga tidak menginvestasikan dalam pelatihan untuk mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan.

Meski demikian, tidak semua pihak setuju dengan stereotip yang berkembang terhadap Gen Z. Kepala Strategi dari Culture Partners, Jessica Kriegel, menilai bahwa stigma negatif terhadap generasi muda ini hanyalah bagian dari siklus yang dialami setiap generasi.

“Setiap generasi selalu menghadapi stigma negatif di awal karir mereka, dan ini akan berlalu. Dulu, generasi milenial juga dipandang sebagai 'anak bermasalah',” ujarnya.

Kriegel menambahkan bahwa para pengusaha seharusnya tidak hanya menilai karyawan berdasarkan usia atau generasi. Lebih penting lagi, perusahaan harus melihat potensi yang dimiliki dan bagaimana mereka bisa berkontribusi dalam perusahaan.

"Daripada berfokus pada stereotip, para pemimpin bisnis sebaiknya lebih mendalami kemampuan dan tujuan dari karyawan mereka," tambahnya.

Pendapat senada disampaikan oleh Baradell, seorang pengusaha yang tidak terlalu terpengaruh oleh anggapan negatif tentang Gen Z.

Menurutnya, keinginan kuat generasi ini untuk mendapatkan fleksibilitas dan tujuan dalam pekerjaan justru membuat mereka lebih termotivasi dan bersemangat.

“Generasi Z tidak hanya mencari pekerjaan semata, tetapi mereka ingin memberikan dampak. Ini adalah keunggulan besar yang bisa dimanfaatkan oleh perusahaan,” ungkap Baradell.

Ia juga memperingatkan bahwa perusahaan yang menolak untuk merekrut generasi Z berisiko kehilangan talenta potensial yang bisa mendorong kemajuan perusahaan di masa depan.

Dengan pendekatan yang tepat, seharusnya para pengusaha dapat membantu lulusan baru beradaptasi lebih baik di dunia kerja dan meraih kesuksesan bersama.

Namun, hal ini juga memerlukan komitmen untuk terus membimbing dan mengembangkan keterampilan karyawan baru agar mereka siap menghadapi tantangan nyata di dunia kerja.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#Kualitas lulusan baru Gen Z #pekerjaan gen z #perusahaan #Pemimpin Bisnis #etos kerja gen z #survei terbaru #karir Gen Z