PADEK.JAWAPOS.COM-Menyambut bulan Ramadhan 1446 Hijriah yang diperkirakan jatuh pada Maret 2025, para pedagang kolang-kaling di Kabupaten Limapuluh Kota mulai bersiap menghadapi lonjakan permintaan yang diperkirakan bisa meningkat hingga 200 persen dibandingkan dengan hari-hari biasa.
Rina, salah seorang pedagang pengumpul kolang-kaling di Jorong Kayu Tanam, Nagari Labuah Gunuang, Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota, menyebutkan bahwa permintaan terhadap kolang-kaling sudah mulai terasa sejak satu bulan menjelang Ramadhan.
“Seperti tahun-tahun sebelumnya, permintaan kolang-kaling selalu melonjak saat Ramadhan karena banyak digunakan untuk membuat kolak, es, hingga berbagai jenis hidangan lainnya,” ujar Rina kepada Padang Ekspres.
Untuk memenuhi lonjakan permintaan yang diperkirakan mencapai 5 ton per minggu selama Ramadhan, Rina mengandalkan pasokan tidak hanya dari petani lokal, tetapi juga dari petani dadakan yang biasanya bermunculan menjelang bulan suci tersebut.
“Jika hanya mengandalkan petani lokal, kami tidak akan mampu memenuhi permintaan yang sangat besar ini,” tambahnya. Pada hari-hari biasa, Rina hanya memperoleh sekitar 2,5 ton kolang-kaling per minggu.
Selain lonjakan permintaan, harga jual kolang-kaling pun mengalami kenaikan signifikan. Pada hari-hari biasa, harga kolang-kaling dipatok sekitar Rp 7.000 per kilogram.
Namun, harga tersebut kini telah naik menjadi Rp 8.000 hingga Rp 9.000 per kilogram. Rina memperkirakan harga bisa terus meningkat hingga mencapai Rp 15.000 per kilogram menjelang Ramadhan.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Limapuluh Kota, namun juga di berbagai daerah lain. Kolang-kaling dari Limapuluh Kota bahkan telah merambah ke luar provinsi, dikirim ke daerah-daerah seperti Riau, Jambi, dan Pulau Jawa, untuk memenuhi permintaan konsumen di luar Sumatera Barat.
Melihat perkembangan ini, Rina dan pedagang lainnya semakin giat mempersiapkan stok untuk memenuhi kebutuhan pasar yang diprediksi semakin tinggi menjelang Ramadhan.
Kenaikan harga dan permintaan yang melonjak ini menjadi tantangan tersendiri bagi pedagang, namun juga menunjukkan betapa pentingnya komoditas kolang-kaling dalam tradisi kuliner saat bulan puasa. (rid)
Editor : Novitri Selvia