Pada Rabu (2/4), kontrak berjangka emas mencatatkan rekor intraday ke-19 tahun ini, melesat di atas US$3.170 per ons sebelum memangkas kenaikan jelang pengumuman rencana tarif balasan Presiden Donald Trump yang dijadwalkan hari ini.
JPMorgan dalam laporannya menyatakan bahwa emas tetap menjadi lindung nilai utama terhadap risiko pasar.
"Dalam kompleks komoditas, posisi panjang pada emas merupakan lindung nilai yang jelas untuk eksposur pasar yang berisiko, terutama karena tren bullish jangka menengah masih tetap kuat," tulis analis JPMorgan seperti dilansir dari Yahoo Finance.
Peningkatan harga emas terjadi dengan laju tercepat dalam hampir 40 tahun.
JPMorgan mencatat bahwa harga emas naik dari US$2.500 menjadi US$3.000 per ons hanya dalam 210 hari, jauh lebih cepat dibandingkan kenaikan US$500 sebelumnya yang rata-rata membutuhkan 1.700 hari.
Sejak awal tahun, harga emas telah meningkat 19%, sementara dalam satu tahun terakhir melonjak lebih dari 40%.
Analis dan peneliti dari Societe Generale menyatakan bahwa emas telah berubah menjadi aset yang diperdagangkan berdasarkan momentum, bukan lagi fundamental.
"Analisis regresi sederhana menunjukkan bahwa sejak awal 2024, emas telah menjadi perdagangan berbasis momentum, yang tampaknya lebih didorong oleh tren pasar daripada fundamental," tulisnya dalam sebuah catatan bulan lalu.
Prediksi Harga Emas Mencapai US$3.300
Tren bullish ini diperkirakan akan terus berlanjut. Societe Generale memproyeksikan harga emas mencapai US$3.300 per ons pada akhir tahun.
Senada dengan itu, analis Goldman Sachs juga menaikkan target harga emas akhir tahun US$3.300, mencerminkan lonjakan arus masuk ETF serta permintaan emas yang kuat dari bank sentral global.
Namun, para analis juga mengidentifikasi beberapa faktor yang dapat memicu aksi jual emas.
"Kesepakatan damai Rusia-Ukraina kemungkinan akan memicu aksi jual spekulatif," kata Lina Thomas, ahli strategi komoditas Goldman Sachs, dalam catatannya pada Rabu lalu.
Selain itu, penurunan tajam di pasar saham juga dapat memicu likuidasi emas yang didorong oleh margin, meskipun diperkirakan hanya bersifat sementara.
Dampak Kebijakan Tarif Trump terhadap Emas
Dalam jangka pendek, pergerakan harga emas kemungkinan akan bergantung pada detail pengumuman Presiden Trump di Rose Garden Gedung Putih.
Trump diperkirakan akan mengumumkan tarif balasan terhadap impor dari negara lain.
"Informasi terkait tarif telah sebagian tercermin dalam harga emas selama seminggu terakhir," kata Linh Tran, analis pasar di XS.com.
"Jika Presiden Trump menunda implementasi kebijakan ini, pasar mungkin akan mengalami koreksi jangka pendek saat investor mengambil keuntungan setelah reli yang kuat."
Harga Emas dalam Negeri
Sementara itu, harga beli emas pada momentum hari raya Idul Fitri 1446 H pada Rabu ini (2/4/2025) tercatat Rp1.712.000 per gram, sementara harga dasar emas Antam di Rp1.819.000 per gram.(*)
Editor : Heri Sugiarto