Trump mengumumkan kebijakan tarif terbaru ini pada Rabu sore waktu setempat (2/4), di Rose Garden, Gedung Putih,. Amerika Serikat.
Pengumuman ini mengguncang pasar keuangan dunia dan menyebabkan penurunan tajam di berbagai indeks utama Wall Street.
Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok lebih dari 1.679,39 poin atau 3,98%, dan tetap berada di bawah 1.000 poin pada pertengahan sore waktu setempat.
Indeks S&P 500 turun 4,84%, sementara Nasdaq Composite merosot hingga 5,97%.
Sektor yang paling terdampak adalah barang konsumsi non-primer, energi, dan teknologi, sedangkan sektor kebutuhan pokok mencatat kenaikan tipis.
Harga emas dan minyak juga turut merosot dalam aksi jual aset secara menyeluruh.
Trump menyatakan bahwa kebijakan ini akan berfokus pada penerapan tarif timbal balik terhadap lebih dari 180 negara mitra dagang AS.
Beberapa tarif yang diumumkan, terutama terhadap negara-negara Asia seperti Indonesia, Tiongkok, Jepang, Vietnam, dan India, lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya, sehingga memicu kepanikan di kalangan investor.
Selain tarif timbal balik, Trump juga mengungkapkan penerapan tarif dasar minimum sebesar 10% yang akan berlaku secara global mulai 5 April 2025.
Kawasan Eropa juga termasuk dalam daftar wilayah yang terkena tarif lebih tinggi.
Pada Kamis (3/4), Trump menyatakan bahwa implementasi tarif ini berjalan dengan baik.
“Pasar akan melonjak, saham akan naik, negara ini akan berkembang pesat, dan negara-negara lain ingin melihat apakah mereka bisa membuat kesepakatan,” ujarnya saat meninggalkan Gedung Putih.
Kebijakan tarif ini menimbulkan reaksi beragam di kalangan pelaku ekonomi dan investor global. Analis memperingatkan bahwa ketegangan dagang yang meningkat dapat memperburuk kondisi ekonomi dunia. (*)
Editor : Heri Sugiarto