Hanya di sejumlah titik di wilayah hukum Polres Padangpanjang, terjadi perlambatan kendaraan, namun tak sampai menimbulkan kemacetan parah.
Meski situasi lalu lintas cenderung terkendali, pelaku usaha di sektor kuliner dan pariwisata justru mengeluhkan dampak negatif dari penerapan sistem one way (satu arah) yang berlangsung cukup panjang tahun ini.
Kebijakan yang diterapkan sejak pukul 12.00 hingga 17.00 WIB itu disebut menurunkan angka kunjungan wisatawan dan konsumen secara signifikan.
Hendri Sati Pamenan, petugas loket tiket Air Terjun Lembah Anai, menyebut penurunan drastis terjadi setelah sistem one way mulai diberlakukan.
"Lebaran hari kedua dan ketiga, pengunjung ramai, kami bisa habiskan 10 buku tiket. Tapi sejak one way jalan, penjualan tiket turun sampai 50 persen. Soalnya pengunjung hanya bisa datang dari arah Padang," ujarnya saat diwawancarai pada Minggu (6/4/2025).
Hal serupa juga disampaikan Oyong, pimpinan rumah makan legendaris Sate Mak Syukur. Ia mengaku, sistem satu arah memberi imbas besar terhadap pendapatan.
"Kalau dibilang merugikan, ya nggak secara langsung. Tapi jelas pengaruh ke penjualan sampai 50 persen. Karena ya, pembeli cuma datang dari satu arah aja," tuturnya dengan nada pasrah.
Dampak kebijakan ini juga terasa di kawasan wisata air Mifan Padangpanjang, yang dikenal sebagai salah satu destinasi rekreasi termodern di Sumatera Barat.
Menurut Marketing Manager Mifan, Sugiyono, tingkat hunian dan kunjungan wahana mengalami penurunan hingga 50 persen setiap harinya selama masa one way.
“Sebelum one way, 70 kamar bisa terisi penuh. Parkiran pun minimal dua dari tiga lapangan bisa penuh oleh mobil wisatawan. Tapi sekarang, sepi. Orang malas mutar arah,” jelas Sugiyono.
Kendati demikian, para pelaku usaha menyatakan tetap memahami kebijakan tersebut sebagai bagian dari upaya pemerintah mengatur kelancaran arus mudik dan balik Lebaran.
Namun, mereka berharap ke depan pemerintah daerah dapat mengevaluasi penerapan sistem satu arah agar lebih berpihak pada keberlangsungan ekonomi lokal, terutama di sektor pariwisata dan UMKM. (wrd)
Editor : Hendra Efison