Ketidakpastian ekonomi mendorong lonjakan permintaan terhadap aset safe haven, dengan data ekonomi penting yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan diperkirakan menunjukkan tanda-tanda awal pelemahan ekonomi dunia.
Emas batang untuk pengiriman segera naik menuju level US$3.354 per ons—hanya sedikit di bawah rekor tertinggi yang tercatat pekan lalu—seiring pelemahan dolar AS.
Pada pukul 08.07 waktu Singapura, harga emas tercatat naik 0,8 persen menjadi US$3.353,47 per ons, sementara indeks Bloomberg Dollar Spot turun 0,3 persen.
Fokus pasar kini tertuju pada proyeksi terbaru Dana Moneter Internasional (IMF) yang akan dirilis Selasa ini. IMF diperkirakan akan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global.
Sementara itu, indeks aktivitas pembelian (PMI) yang akan diumumkan keesokan harinya akan memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi ekonomi sejak kebijakan tarif yang diluncurkan oleh Presiden Donald Trump.
Ketegangan perdagangan yang berkepanjangan telah mengguncang pasar keuangan global sepanjang tahun ini, memicu kekhawatiran investor terhadap aset berisiko dan mendorong aliran dana besar-besaran ke aset lindung nilai seperti emas.
Hal ini mendorong harga emas mencetak rekor demi rekor sepanjang tahun.
Permintaan global terhadap emas juga terus menguat. Tercatat, kepemilikan emas di reksa dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) berbasis emas meningkat selama 12 pekan berturut-turut, menjadi periode kenaikan terpanjang sejak 2022.
Selain itu, bank-bank sentral di berbagai negara juga terus menambah cadangan emas mereka.
Sementara itu, harga logam mulia lainnya seperti perak dan platinum tercatat stabil, sedangkan palladium mengalami penurunan.(*)
Editor : Heri Sugiarto