Di balik perkembangan songket khas Tanjung Enim ini, terdapat peran penting Yenny Puspitasari, Ketua Sentra Industri Bukit Asam (SIBA) Songket.
Berawal dari Inisiatif Ibu PKK
Pada 2016, Yenny bersama ibu-ibu PKK Desa Lingga mencari cara untuk menambah penghasilan keluarga. Niat ini disampaikan kepada tim CSR PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan mendapat dukungan berupa alat tenun, benang, serta pembimbing.
Sejak saat itu, Songket Behembang Lingge mulai dikembangkan, tidak hanya sebagai sumber pendapatan, tetapi juga upaya menjaga identitas desa.
Motif dengan Hak Paten
Songket Behembang Lingge memiliki tiga motif utama, yakni Bunga Rosela, Bunga Kertas, dan Bunga Tanjung. Pada 2024, motif Bunga Tanjung resmi memperoleh hak paten.
Songket ini juga berbeda dari songket Palembang pada umumnya. Ciri khasnya terletak pada tumpal yang memuat simbol sejarah Desa Lingga, seperti kujur, keris, dan gung.
Inovasi Pewarna Alami
Untuk meningkatkan daya saing, SIBA Songket berinovasi dengan menggunakan pewarna alami dari kunyit, daun jambu biji, secang, dan pinang. Langkah ini menjadikan produk ramah lingkungan sekaligus bernilai jual lebih tinggi.
Songket dengan pewarna sintetis dijual sekitar Rp3 juta per setel, sedangkan songket premium dengan pewarna alami bisa mencapai Rp5 juta per setel.
Dukungan PT Bukit Asam
Dalam pengembangannya, PTBA terus memberikan pembinaan melalui pelatihan manajemen keuangan, digital marketing, teknik menenun, hingga pewarnaan alami. PTBA juga mendukung pengurusan Hak Cipta motif Songket Behembang Lingge.
Untuk memperluas pasar, SIBA Songket difasilitasi masuk ke platform PaDi UMKM (Pasar Digital) serta mengikuti berbagai pameran, seperti Bazar UMKM untuk Indonesia di Jakarta dan Pameran Bangga Buatan Indonesia di Palu.
Upaya tersebut mengantarkan SIBA Songket meraih penghargaan dalam Bina Mitra UMKM Award 2024.
Kini, Songket Behembang Lingge menjadi simbol perjuangan ibu-ibu Desa Lingga dalam melestarikan budaya sekaligus meningkatkan perekonomian.
Produk ini diharapkan terus berkembang, membawa identitas lokal ke tingkat nasional hingga internasional.(*)
Editor : Heri Sugiarto