Lonjakan ini dipicu oleh peran emas sebagai aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi, ketegangan geopolitik, dan kekhawatiran terhadap kebijakan AS.
Berdasarkan catatan The Guardian pada Minggu (28/9/2025), investor Barat dan bank sentral AS, termasuk China, menjadi pendorong utama kenaikan harga.
Data Bank of America menunjukkan aliran dana ke emas mencapai US$17,6 miliar dalam empat minggu terakhir, sementara permintaan terhadap alternatif logam mulia lain tetap terbatas karena pasokan cepat terserap industri.
Kelebihan emas sebagai penyimpan nilai terletak pada kelangkaannya; jika seluruh emas yang pernah ditambang dijadikan kubus, ukurannya hanya 22 meter per sisi. Total pasokan diperkirakan meningkat 1,7% per tahun.
Managing Partner di SPI Asset Management, Stephen Innes mengatakan bahwa tidak ada kebijakan, penemuan baru, atau pelonggaran kuantitatif geologi yang bisa melemahkan nilai emas.
Analis memproyeksikan harga emas masih berpotensi naik. Bahkan, Deutsche Bank baru-baru ini memprediksi harga emas bisa mencapai US$4.000 per ons pada 2026.
Pembelian emas bisa dilakukan melalui koin, batangan, ETF, atau saham perusahaan pertambangan. Namun, investor harus memperhatikan risiko koreksi harga jika inflasi menurun atau ketegangan global mereda.(*)
Editor : Heri Sugiarto