Berdasarkan data Reuters, harga spot gold turun 1,6% menjadi US$4.287,89 per ons pada pukul 15.03 WIB, setelah mencapai rekor tertinggi US$4.381,21 pada Senin (20/10). Sementara itu, futures emas AS untuk pengiriman Desember juga melemah 1,3% ke US$4.303,60 per ons.
Indeks dolar AS naik 0,2%, membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Strategis komoditas WisdomTree, Nitesh Shah, menyebut bahwa meski harga emas berpotensi naik lebih tinggi, laju kenaikan yang cepat memicu koreksi sementara setiap kali mencapai level tertinggi baru.
Kenaikan harga emas tahun ini telah mencapai 63% yang didorong oleh ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, pembelian besar oleh bank sentral, serta ekspektasi pemangkasan suku bunga AS.
Investor kini menanti data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk September yang akan dirilis pada Jumat (24/10).
Data tersebut diperkirakan menunjukkan inflasi tahunan sebesar 3,1%, memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan pekan depan.
Emas cenderung diuntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah.
Sementara itu, pasar saham Asia menguat pada hari yang sama, didorong oleh harapan meredanya ketegangan dagang AS–China dan perkembangan politik di Jepang menjelang penunjukan Sanae Takaichi sebagai perdana menteri baru.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai masih banyak pelaku pasar yang belum masuk ke reli harga emas dan menunggu koreksi harga untuk berinvestasi, sehingga pelemahan emas kemungkinan terbatas.
Di pasar logam mulia lainnya, perak turun hampir 4% ke US$50,39 per ons, platinum melemah 3,9% ke US$1.574,05, dan palladium merosot 4,5% ke US$1.428,25.
Menurut analis dan pelaku pasar, meningkatnya pasokan perak dari AS dan China ke pasar spot London telah meredakan tekanan likuiditas di pusat perdagangan logam mulia terbesar dunia.(*)
Editor : Heri Sugiarto