Di balik aroma santan segar yang menyeruak dari ember-ember putih, berdiri seorang pria dengan senyum tenang—Endi Ruspital (45), pemilik usaha Santan Jaso Mandeh yang baru berjalan satu bulan setengah.
Tak banyak yang tahu, perjalanan Endi menuju usaha ini berawal dari titik terendah hidupnya. “Akhir 2024 saya kena stroke karena hipertensi,” ujarnya perlahan, mengingat masa ketika tubuhnya melemah dan ia terpaksa menghentikan aktivitas berdagang.
Sebelumnya, ia memiliki konter pulsa, namun setelah sakit dan lama berhenti, pelanggan pun berpindah.
Ketika kesehatannya mulai pulih, Endi mendapati dirinya tanpa pekerjaan tetap, sementara kebutuhan hidup terus mendesak.
Hingga suatu hari, seorang teman mengajaknya menjadi stocker kelapa. Bersama kera peliharaan temannya, mereka memanjat pohon-pohon kelapa di sekitar Padang.
Dari situlah, Endi mengenal banyak penjual santan dan mulai tertarik pada peluang usaha itu.
“Saya lihat penjual santan nggak pernah sepi. Dari situ saya pikir, kenapa nggak coba buka usaha sendiri?” katanya.
Setelah mempelajari proses produksi, ia memberanikan diri mencari modal. Sang nenek menjadi penyokong utama dan memberikan bantuan dana.
Sebagai bentuk penghargaan, ia menamai usahanya Santan Jaso Mandeh—yang berarti “Santan Jasa Nenek” dalam bahasa Minangkabau.
Idealnya, usaha santan membutuhkan modal sekitar Rp35 juta, termasuk untuk mesin parut, sewa ruko, dan perlengkapan.
Namun, Endi beruntung masih memiliki mesin warisan kakeknya yang dulu juga berjualan santan.
Baca Juga: Harga Nanas di Padang Naik hingga 50 Persen Akibat Kemarau Panjang
“Mesinnya sudah lama disimpan di gudang. Sekarang saya pakai lagi, seperti hidup kembali,” ujarnya tersenyum.
Kini, setiap pagi Endi membuka kedai di antara Perumahan Taratak Permai dan Rindang Alam. Target pasarnya adalah warga sekitar, terutama ibu rumah tangga dan penjual makanan.
Dalam sebulan pertama, ia menjual rata-rata 5 hingga 10 kilogram santan per hari, meski belum mencapai target 50 kilogram.
“Walaupun belum sesuai harapan, alhamdulillah nggak terlalu jauh dari ekspektasi,” tuturnya optimistis.
Kreativitasnya pun terus tumbuh. Dari santan yang tidak habis terjual, Endi mulai mengolahnya menjadi minyak kelapa, setelah mendapat saran dari pelanggan.
Ternyata, produk baru itu justru diminati. Kini, ia juga menjual tempurung dan hasil olahan kelapa lain untuk menambah penghasilan.
Bagi Endi, usaha santan ini bukan sekadar bisnis, melainkan simbol kebangkitan. Dari sakit, kehilangan usaha, hingga berdiri kembali berkat dukungan keluarga dan semangat pantang menyerah.
“Saya cuma ingin usaha ini terus jalan, biar jadi amal dan kenangan buat nenek,” katanya pelan, menatap logo sederhana bertuliskan Santan Jaso Mandeh di depan rukonya. (cr4)
Editor : Hendra Efison