Di balik kaca itu, warna-warni ikan molly, glofish, hingga koi berenang lincah. Tempat itu bernama Tabiang Aquarium, milik Azhari Hidayat (32) — pelaku usaha ikan hias yang menempuh perjalanan lebih dari satu dekade dari berjualan keliling pasar hingga memiliki toko sendiri.
“Tamat sekolah itu nggak punya kerjaan. Coba-coba jualan ikan biar ada pemasukan, eh malah keterusan,” kenang Azhari saat ditemui akhir pekan ini.
Ia memulai dengan modal kecil, membawa ikan dari satu pasar ke pasar lain. Butuh waktu lima tahun sebelum akhirnya membuka toko pertamanya, dan kini, setelah 11 tahun menekuni bisnis ini, ia menempati lokasi baru yang lebih strategis dan ramai pengunjung.
Ekosistem Bisnis yang Tumbuh dari Kegigihan
Tabiang Aquarium kini menjelma menjadi salah satu sentra ikan hias paling lengkap di kawasan Koto Tangah.
Azhari menjual berbagai ukuran aquarium (15 cm hingga 1,5 meter), aksesoris dekoratif seperti batu, tanaman buatan, dan mainan, serta pakan ikan berbagai jenis.
Namun, daya tarik utamanya tetap pada ikan-ikan hias yang didatangkan langsung dari Tulungagung, Jawa Timur — sentra pembudidayaan ikan terbesar di Indonesia.
“Dari sana kualitasnya bagus dan harganya lebih terjangkau,” jelasnya. Setiap hari, ratusan ikan berpindah tangan ke para pembeli, dengan ikan glofish menjadi primadona — terjual hingga 300–500 ekor per hari.
Permintaan ikan hias memang tak pernah surut. Di saat ekonomi digital memperluas pasar melalui e-commerce, toko seperti milik Azhari justru memadukan kekuatan layanan langsung dan pemasaran digital.
Ia aktif mengunggah stok ikan terbaru, aquarium custom, dan tips perawatan lewat media sosial. “Banyak pembeli datang setelah lihat posting-an kami,” katanya.
Tantangan Cuaca dan Persaingan Digital
Meski berkembang pesat, bisnis ikan hias bukan tanpa risiko. Perubahan cuaca ekstrem bisa berakibat fatal bagi stok ikan.
“Kalau tiga hari hujan terus, suhu air bisa turun drastis. Ikan jadi stres dan mati. Ada ikan yang tahan dingin, tapi banyak juga yang nggak,” ungkapnya.
Kondisi ini memperlihatkan rentannya rantai pasok ikan hias terhadap perubahan iklim, yang kini menjadi perhatian global.
Di banyak negara tropis seperti Indonesia, penyesuaian suhu dan transportasi ikan hidup menjadi faktor penentu keberhasilan usaha.
Persaingan dengan penjualan online pun menjadi tantangan lain. Banyak konsumen mengira harga ikan di toko lokal sama dengan harga e-commerce.
Padahal, menurut Azhari, toko fisik menanggung biaya logistik, risiko kematian ikan, dan perawatan harian yang tidak kecil. “Selisihnya tipis, tapi orang kadang lihat harga tanpa tahu prosesnya,” ujarnya.
Tren Global Aquascape dan Peluang Lokal
Kebangkitan tren aquascape dan wellness lifestyle global turut mengangkat pasar ikan hias.
Data Allied Market Research mencatat, pasar ikan hias dunia diperkirakan mencapai USD 11,3 miliar pada 2030, tumbuh rata-rata 7,2% per tahun.
Peningkatan minat terhadap dekorasi rumah, terapi visual, dan konten media sosial memperluas segmen pembeli muda.
Indonesia, dengan kekayaan biodiversitas ikan air tawar dan biaya produksi rendah, berpotensi menjadi pemain besar.
Pelaku seperti Azhari menjadi contoh bagaimana bisnis kecil lokal beradaptasi dengan tren global — menjaga kualitas, memperluas pemasaran digital, dan mempertahankan kedekatan personal dengan pelanggan.
Menjaga Keseimbangan antara Alam dan Pasar
Di balik etalase kaca dan cahaya lampu biru, bisnis ikan hias seperti Tabiang Aquarium juga menghadapi isu keberlanjutan.
Penangkapan liar, pengiriman jarak jauh, dan limbah plastik dari wadah ikan menjadi perhatian baru dalam industri ini.
Namun, di toko kecilnya di Padang, Azhari menunjukkan bahwa bisnis bisa berjalan selaras dengan kepedulian terhadap kehidupan air.
Ia kini mulai mengedukasi pembeli untuk memilih ikan yang mudah dirawat dan berasal dari budidaya, bukan tangkapan alam.
“Saya pengin orang beli ikan bukan cuma karena lucu, tapi juga tahu cara merawatnya,” tuturnya.
Dari aliran kecil usaha pasar ke pasar, kini Tabiang Aquarium menjadi bagian dari arus besar industri ikan hias global—membuktikan bahwa ketekunan, adaptasi digital, dan tanggung jawab ekologis bisa berjalan beriringan di bawah satu atap kaca berair jernih. (Riyadhatul Khalbi/cr4)
Editor : Hendra Efison