Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Investor Lokal Dinilai Mampu Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Sumbar

Rian Afdol • Jumat, 21 November 2025 | 22:34 WIB

Akademisi Fakultas Ekonomi UNP Dr. Doni Satria, S.E, M.S.E dalam kegiatan Capacity Building Media yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumbar di Tanahdatar, Jumat (21/11).
Akademisi Fakultas Ekonomi UNP Dr. Doni Satria, S.E, M.S.E dalam kegiatan Capacity Building Media yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumbar di Tanahdatar, Jumat (21/11).
PADEK.JAWAPOS.COM—Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat dinilai bisa terdongkrak jika pemerintah lebih serius mendorong keterlibatan investor lokal, termasuk perantau. Investasi oleh pelaku lokal dinilai lebih mudah diterima masyarakat sekaligus memiliki dampak langsung bagi daerah.

Hal itu disampaikan Akademisi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang (UNP), Dr. Doni Satria, S.E, M.S.E, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Capacity Building Media yang dilaksanakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat di Tanahdatar, Kamis–Jumat (20–21/11).

“Tidak usah bermimpi akan ada pabrik besar, proyek strategis nasional, atau tambang nikel. Kita harus realistis, kita butuh investasi yang didorong oleh masyarakat atau perantau,” ujarnya, Jumat (21/11).

Menurut Doni, pendekatan investasi oleh investor lokal memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari adanya hubungan kekerabatan, struktur sosial yang saling terkait, hingga ikatan emosional dengan daerah asal. Pola ini diyakininya dapat mengurangi potensi penolakan dari masyarakat.

“Misalnya dalam investasi energi panas bumi. Jika investornya merupakan investor lokal atau perantau, saya yakin penerimaan dari masyarakat akan lebih baik,” sambungnya.

Doni menilai, struktur sosial dan hubungan kekerabatan di Sumbar seharusnya menjadi faktor pendorong investasi, bukan penghambat.

“Ini seharusnya menjadi kekuatan, bukan kelemahan. Kita harus bisa mengubah citra Sumbar yang kerap dianggap anti pembangunan, anti investasi, dan berbagai image lain yang menyebabkan lambannya investasi,” katanya.

Ia mendorong Pemerintah Provinsi Sumbar untuk lebih aktif membangun kolaborasi lintas pihak, mulai dari akademisi, pemerintah kabupaten/kota hingga pemerintahan nagari. Menurutnya, isu pertumbuhan ekonomi menyangkut kepentingan seluruh lapisan masyarakat.

“Bisa dimulai dari mempermudah perizinan, menyiapkan infrastruktur pendukung, merangkul akademisi, serta mulai mengidentifikasi masyarakat atau perantau kita yang potensial menjadi investor,” ujarnya.

Doni mencontohkan perkembangan kawasan wisata Mandeh sebagai bentuk keberhasilan pendekatan investasi yang melibatkan masyarakat. Pemerintah, kata dia, menyediakan infrastruktur dasar, lalu masyarakat terdorong menanamkan modal dan membangun usaha.

“Investor di sektor pariwisata Mandeh didominasi oleh masyarakat, bukan dengan skala yang besar, tetapi tetap mampu menggerakkan pariwisata dan ekonomi di kawasan tersebut,” jelasnya.

Ia menambahkan, pengalaman Mandeh bisa menjadi pelajaran bagi daerah lain di Sumbar dalam mendorong investasi berbasis masyarakat. “Waktu itu, Mandeh dibangunkan jalan, langsung tumbuh investasi masyarakat. Jadi daripada kita sibuk mencari investor besar, lebih baik kita menciptakan suasana kondusif bagi masyarakat supaya bisa berinvestasi,” tutupnya. (*)

 

Editor : Eri Mardinal
#BI Perwakilan Sumbar #Capacity Building Media #investor lokal #Pertumbuhan Ekonomi Sumbar