Ia terlihat berjualan di jalur utama Padang–Solok, lokasi yang telah ditempatinya sejak beberapa tahun terakhir.
Pak Ju merantau ke Padang sejak usia sembilan tahun dan tidak pernah mengenyam pendidikan formal.
Ia mulai berdagang bengkoang pada 2000 dengan lokasi dagang berpindah-pindah, mulai dari kawasan Lintas Andalas hingga Aia Pacah, sebelum menetap di titik saat ini.
Bengkoang yang dijualnya berasal dari pemasok di Kuranji dan diantarkan langsung ke lapak. Ia berjualan sejak selesai Subuh hingga pukul 20.00.
Setiap karung berisi 60–70 ikat, dengan harga Rp20.000 untuk ukuran kecil dan Rp15.000 untuk ukuran besar.
Menurutnya, penjualan menurun sejak memasuki musim hujan. “Dulu satu karung habis sehari, sekarang setengah karung saja sulit habis,” ujarnya saat ditemui Kamis (04/12/2025).
Pendapatan hariannya berkisar antara nol rupiah hingga Rp300.000.
Sebagian besar pembeli berasal dari luar kota, terutama penumpang yang menuju Kerinci.
Segmen pembeli ini menjadi penopang utama penjualan Pak Ju di tengah turunnya minat warga setempat.
Dari hasil berdagang, Pak Ju membesarkan tiga anak. Anak pertamanya bekerja sebagai pengemudi ojek online, sementara anak keduanya merantau ke Pulau Jawa.
Anak bungsunya berhasil menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Sipil di Universitas Andalas.
Pak Ju menyebut keberhasilan anak bungsunya sebagai pencapaian terbesar dalam hidupnya.
Ia tetap berjualan bengkoang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mendukung keluarganya.(CR3)
Editor : Hendra Efison