Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Laporan Pasar Keuangan 2025: Emas Melejit 70%, Saham Naik 21%, dan Nasib Dolar AS

Heri Sugiarto • Rabu, 31 Desember 2025 | 16:38 WIB

Pergerakan aset global menunjukkan harga emas meroket hampir 70% (level tertinggi sejak 1979), sementara indeks saham global tumbuh 21% di tengah pelemahan Dolar AS.(Foto ilustrasi: Gemini AI)
Pergerakan aset global menunjukkan harga emas meroket hampir 70% (level tertinggi sejak 1979), sementara indeks saham global tumbuh 21% di tengah pelemahan Dolar AS.(Foto ilustrasi: Gemini AI)
PADEK.JAWAPOS.COM-Sepanjang 2025, pasar keuangan global bergerak tajam ketika kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump, geopolitik, dan kekhawatiran utang memicu lonjakan serta koreksi lintas aset. Emas naik hampir 70%, sementara dolar AS melemah mendekati 10%.

Menurut laporan ringkasan pasar tahunan yang dirilis Reuters, Rabu (31/12/2025), indeks saham global pulih dari kejatuhan tarif “Liberation Day”, yaitu kebijakan tarif baru AS pada April dan naik 21% sepanjang 2025. Emas melonjak hampir 70% — tertinggi sejak 1979 — sementara dolar AS turun hampir 10% dan minyak melemah sekitar 17%. Di pasar obligasi berisiko, surat utang berkualitas rendah justru menguat.

Sejumlah saham teknologi besar mengalami penurunan kinerja setelah Nvidia mencapai valuasi US$5 triliun. Bitcoin sempat jatuh sepertiga nilainya dan menjelang akhir tahun turun hampir 7%.

DoubleLine Fund Manager Bill Campbell menyebut 2025 sebagai tahun perubahan dan kejutan karena pergerakan pasar saling terkait dengan perdagangan, geopolitik, dan utang.

Eropa dan Asia: Pertahanan, Perbankan, dan Pasar Saham

Sinyal bahwa AS akan mengurangi perlindungan militer Eropa mendorong lonjakan 55% saham produsen senjata serta mengiringi tahun terbaik saham perbankan Eropa sejak 1997.

Saham Korea Selatan naik 70%, obligasi Venezuela yang gagal bayar mencatat hampir 100% imbal hasil, sementara perak dan platinum masing-masing melonjak 165% dan 145%.

Obligasi dan Suku Bunga di Tengah Kekhawatiran Utang

Tiga kali pemangkasan suku bunga AS, kritik terhadap Federal Reserve, dan isu utang memengaruhi pasar obligasi.

Imbal hasil Treasury 30 tahun sempat menembus 5,1% pada Mei sebelum turun ke 4,8%, dengan pelebaran term premia menimbulkan kehati-hatian.

Di Jepang, imbal hasil 30 tahun menyentuh rekor tinggi. Namun volatilitas global obligasi berada di level terendah empat tahun, dan utang negara berkembang berbasis mata uang lokal membukukan kinerja terbaik sejak 2009.

Mata Uang Menguat di Tengah Pelemahan Dolar AS

Pelemahan dolar membuat euro naik hampir 14% dan franc Swiss 14,5%. Rouble menguat 40% dan cedi Ghana 34%. Mata uang Polandia, Ceko, dan Hungaria terapresiasi 15–20%.

Kepala Riset EM fixed income J.P. Morgan Jonny Goulden menyebut perubahan ini sebagai pembalikan siklus panjang di pasar valuta.

Argentina juga mencatat pergerakan besar: pasar jatuh usai kekalahan regional Presiden Javier Milei pada September, lalu berbalik naik setelah janji dukungan US$20 miliar dari Trump.

AI Dorong Pembiayaan Perusahaan

Investasi kecerdasan buatan mendorong peningkatan pinjaman korporasi. Goldman Sachs memperkirakan belanja perusahaan teknologi berskala besar mendekati US$400 miliar tahun ini dan hampir US$530 miliar tahun depan.

Menyambut 2026: Risiko Politik Masih Terbuka

Trump bersiap menghadapi pemilu paruh waktu dan diperkirakan menunjuk kepala baru Federal Reserve. Sejumlah pemilu internasional menjaga ketidakpastian, sementara isu Gaza dan Ukraina tetap menjadi perhatian.

Pendiri Satori Insights Matt King menilai valuasi pasar memasuki 2026 berada di level tinggi, namun mulai terlihat tekanan pada premi tenor, pelemahan bitcoin, dan reli emas.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#obligasi AS #perang dagang #emas melonjak #Pasar keuangan 2025 #prediksi pasar keuangan 2026 #dolar as melemah #saham dunia 2025 #Investasi AI #mata uang emerging market