Di Pasar Raya Padang, kawasan Padang Teater, usaha jahit Merapi Jaya masih bertahan pada Selasa (30/12/2025) meski mengalami penurunan pesanan signifikan pada libur Natal dan Tahun Baru 2025.
Pemilik Merapi Jaya, Aria Putra (46), mengatakan usaha keluarga yang dirintis sejak 1979 itu kini ia kelola seorang diri setelah sang ayah, Zulfan (72), berhenti menjahit karena faktor usia dan gangguan pendengaran.
“Orderan sekarang jauh menurun dibandingkan dulu. Dampak ekonomi dan pasar online sangat terasa bagi usaha kecil seperti kami,” ujar Aria saat ditemui di kiosnya.
Zulfan, perintis Merapi Jaya asal Payakumbuh, dikenal melayani pelanggan dari berbagai daerah di Sumatera Barat, termasuk Pasaman, Pesisir Selatan, hingga Solok, sebelum akhirnya pensiun dari aktivitas menjahit.
Aria resmi melanjutkan usaha tersebut tiga tahun lalu setelah sebelumnya bekerja sebagai pengemudi ojek online.
Ia memutuskan kembali ke usaha jahit karena pendapatan ojol yang tidak menentu serta permintaan langsung dari ayahnya.
“Ayah sudah tidak sanggup lagi. Karena permintaan beliau dan penghasilan ojol yang juga tidak pasti, saya putuskan meneruskan usaha ini,” kata Aria.
Menurut Aria, penurunan daya beli masyarakat pascapandemi COVID-19 dan maraknya pakaian jadi murah dari e-commerce membuat jasa jahit konvensional semakin tertekan.
Kondisi tersebut kian terasa saat Nataru 2025, yang sebelumnya menjadi periode ramai pesanan, khususnya dari pelanggan asal Mentawai.
“Biasanya libur Nataru ramai, sekarang sangat sepi. Usaha ini hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Meski demikian, Aria tetap membuka kios setiap hari dan membayar retribusi kios sebesar Rp81 ribu per bulan, sembari menanggung kebutuhan keluarga dan pendidikan dua anaknya.
Ia menegaskan akan terus mempertahankan Merapi Jaya sebagai bentuk tanggung jawab dan penghormatan terhadap usaha keluarga yang telah puluhan tahun menjadi bagian Pasar Raya Padang. (CR3)
Editor : Hendra Efison