Kondisi tersebut dirasakan pedagang beras, sembako, ikan, jasa jahit, hingga usaha kuliner, yang mencatat penurunan omzet signifikan menjelang pergantian tahun 2026.
Ujang (62), pedagang beras di Siteba, menyebut pasokan dari luar kota terhambat pascabanjir sehingga harga beras naik saat penghasilan masyarakat justru turun.
“Kondisi jual beli tahun ini tidak menentu dan cenderung menurun dibanding tahun lalu,” kata Ujang.
Ia berharap pemulihan infrastruktur dan distribusi segera rampung agar aktivitas ekonomi kembali bergerak normal.
Tekanan serupa dirasakan Omma (53), pemilik toko sembako di Gunung Pangilun, yang mencatat konsumen kini membeli kebutuhan pokok dalam jumlah terbatas.
“Harga beras, telur, sampai sayuran naik setelah bencana, jadi orang-orang lebih irit belanja,” ujarnya.
Di sektor perikanan, pedagang ikan di kawasan Pantai Padang, Dodi Wirsa (35), mengaku omzet penjualan anjlok hingga 70 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Biasanya akhir tahun ramai, tapi sekarang pembeli sepi sekali,” kata Dodi.
Kelesuan juga terjadi pada usaha jasa jahit di Pasar Raya Padang. Aria Putra (46) mengatakan penurunan pesanan telah berlangsung sejak pandemi COVID-19 dan diperparah oleh bencana alam.
“Sekarang masyarakat lebih memprioritaskan kebutuhan pangan daripada menjahit baju,” ujarnya.
Sementara itu, pemilik kedai nasi di Padang, Herwina (52), mengaku tertekan oleh kenaikan harga bahan baku seperti beras, telur, dan ayam.
“Saya harus menekan modal agar harga jual tidak naik supaya pelanggan tetap datang,” katanya.
Para pelaku UMKM berharap pemerintah dapat mempercepat pemulihan logistik dan menjaga stabilitas harga pangan agar ekonomi masyarakat bawah di Kota Padang dapat bangkit pada 2026. (CR3)
Editor : Hendra Efison