”10.000 tahun depan? Oh, lebih lah. Harusnya lebih,” ujar Purbaya di Jakarta Rabu (30/12).
Menurut dia, secara fundamental IHSG sejatinya sudah layak berada di level yang lebih tinggi pada 2025. Namun, dinamika kebijakan dan sentimen pasar membuat pergerakan indeks sempat tertahan. Tahun ini, IHSG ditutup di posisi 8.646,94 atau menguat tipis 0,03 persen, masih di bawah proyeksi Purbaya sebelumnya yang menargetkan level 9.000.
”Kalau desain kebijakannya kemarin sepenuhnya sesuai rancangan awal, sekarang mestinya sudah 9.000. Ke depan, dengan kebijakan yang makin sinkron dan ekonomi yang makin solid, IHSG harusnya bergerak lebih cepat,” bebernya.
Pada penutupan perdagangan akhir tahun, indeks LQ45 justru melemah 0,64 persen ke level 846,57. Meskipun demikian, pengamat pasar modal Reydi Octa menilai penguatan IHSG di penghujung 2025 tetap mencerminkan sentimen positif pasar. Tren pemangkasan suku bunga global dan domestik menjadi pendorong utama meningkatnya minat risiko investor terhadap aset di negara berkembang. ”Risk appetite investor mulai pulih, sehingga dana kembali mengalir ke emerging market, termasuk Indonesia,” ujarnya.
Kinerja emiten berkapitalisasi besar yang relatif solid, ditambah faktor window dressing akhir tahun, turut menopang pergerakan indeks. Memasuki 2026, Reydi menilai perhatian investor masih akan tertuju pada arah kebijakan suku bunga, dinamika geopolitik global, serta kekuatan pertumbuhan ekonomi.”Performa saham big cap dan arus dana asing akan menjadi penentu arah IHSG, apalagi kepemilikan asing kini bukan lagi mayoritas,” jelasnya.
Editor : Eri Mardinal