PADEK.JAWAPOS.COM-Minuman tradisional khas Sumatera Barat, aia aka, hingga kini masih bertahan di tengah gempuran minuman modern.
Aia aka tidak hanya berfungsi menghilangkan dahaga, tetapi juga dikenal memiliki manfaat bagi kesehatan. Minuman tradisional ini dapat ditemui di Jalan M. Natsir, Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat.
Penjual aia aka, Mahendra Fagore, 53, mengatakan aia aka merupakan minuman khas Bukittinggi yang telah dikenal sejak lama oleh masyarakat Minangkabau.
Meski disebut aia aka yang berarti air akar, minuman ini sama sekali tidak terbuat dari akar tanaman.
“Bahan utamanya dari daun cincau yang diperas, lalu airnya dibiarkan mengental. Cara pembuatannya harus oleh orang yang pandai. Kalau tidak, hasil perasan tidak akan mengental. Saya berjualan sejak 2009,” ujar Mahendra saat ditemui, Senin (5/1).
Mahendra menyampaikan, dalam sehari ia dapat menjual puluhan gelas aia aka, terutama saat cuaca panas atau menjelang sore hari.
“Peminat aia aka ini kebanyakan pelanggan yang sudah mengetahui khasiat minuman tradisional ini. Untuk orang-orang yang baru mengenal, biasanya jarang,” katanya.
Ia menjelaskan, aia aka dijual dalam dua varian, yakni aia aka asam dan aia aka santan. Kedua varian tersebut dijual dengan harga Rp 7.000 per gelas.
“Harganya terjangkau karena beberapa bahan saya tanam sendiri,” tuturnya.
Selain itu, aia aka juga dipercaya memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan. “Minuman ini dikenal dapat membantu melancarkan pencernaan dan meredakan panas dalam, terutama saat cuaca panas. Beberapa pelanggan saya sudah merasakan khasiatnya,” pungkasnya.
Salah seorang pembeli, Andi, 38, mengaku rutin membeli aia aka karena merasakan langsung manfaatnya. Menurutnya, selain rasanya yang khas, minuman tradisional ini membuat tubuh terasa lebih ringan.
“Kalau habis kerja dan minum aia aka, perut terasa nyaman dan badan lebih segar. Rasanya juga berbeda dengan minuman kemasan,” ungkap Andi.
Andi menuturkan, keberadaan penjual aia aka penting untuk menjaga keberlangsungan kuliner tradisional Minangkabau.
“Penjual aia aka hanya beberapa orang saja dan agak sulit ditemui. Saya ke sini karena sudah biasa. Ke depan, kemungkinan akan semakin sulit dijumpai karena ini minuman tradisional dan pembuatannya harus oleh orang yang ahli,” katanya.
Pedagang berharap minuman tradisional aia aka tetap diminati masyarakat dan tidak tergerus oleh perkembangan zaman. Ia berupaya mempertahankan usaha tersebut yang telah digelutinya selama belasan tahun. (cr6)
Editor : Novitri Selvia