Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Tanpa Branding Digital, Kopi Racikan Pedagang Pasar di Payakumbuh Jadi Pemasok Warkop Kekinian

Irfan R Rusli • Senin, 19 Januari 2026 | 18:52 WIB

Kopi racikan pedagang Pasar Ibuh Payakumbuh tetap jadi pemasok warkop modern. Iros menjaga rasa kopi selama 20 tahun tanpa branding digital. (Foto: Irfan/Padeks)
Kopi racikan pedagang Pasar Ibuh Payakumbuh tetap jadi pemasok warkop modern. Iros menjaga rasa kopi selama 20 tahun tanpa branding digital. (Foto: Irfan/Padeks)
PADEK.JAWAPOS.COM—Kopi racikan pedagang Pasar Ibuh Payakumbuh menjadi pemasok utama bagi sejumlah warung kopi modern di kota tersebut meski tanpa merek, pemasaran digital, atau kemasan khusus.

Fenomena ini terungkap dari pantauan di lapak kopi milik Iros (58) pada Senin (19/1/2026).

Lapak yang beroperasi di kawasan Pasar Ibuh itu tetap didatangi pembeli, termasuk pelaku usaha kopi.

Karung kopi, timbangan manual, dan plastik polos menjadi perlengkapan utama yang digunakan Iros dalam melayani pelanggan.

“Saya tidak pakai merek, tidak jualan online. Dari dulu begini saja,” ujar Iros.

Ia menyebut, konsistensi rasa menjadi alasan banyak pelanggan tetap membeli kopi racikannya selama lebih dari 20 tahun berjualan.

“Kalau rasanya dijaga, orang akan datang sendiri,” katanya.

Sejumlah pelaku usaha membenarkan hal tersebut. Wan (65), pemilik kedai kopi, mengaku sudah lama membeli kopi dari lapak tersebut.

“Tidak perlu merek macam-macam, yang penting rasanya cocok,” ujarnya.

Menurut Wan, pelanggan lebih peka terhadap kualitas rasa daripada tampilan kemasan.

“Mau pakai alat apa pun, kalau bahan dasarnya bagus, pelanggan pasti balik,” katanya.

Hal senada disampaikan Ega (27), pemilik usaha kopi gerobakan dan warkop yang menyasar kalangan muda. Ia menilai kualitas kopi racikan Iros konsisten.

“Saya pakai kopi dari Iros untuk gerobakan dan warkop. Tidak pakai merek, tapi rasanya stabil,” ungkapnya.

Ega mengatakan branding digital memang penting, namun rasa tetap menjadi penentu keberlanjutan usaha.

“Awalnya orang datang karena tampilan, tapi balik lagi karena rasa,” tambahnya.

Fenomena ini menunjukkan peran UMKM tradisional dalam rantai pasokan kopi kekinian di Payakumbuh.

Meski tidak terlihat di media sosial, pelaku usaha pasar menjadi penyedia bahan baku bagi warkop modern.

Pengamat UMKM lokal, Jondri YM, menilai model usaha tradisional yang mengandalkan kualitas dapat berjalan berdampingan dengan konsep pemasaran digital pelaku kopi kekinian.

“Ini relasi yang saling menguntungkan. Pasar tradisional tidak mati, justru menjadi fondasi usaha modern,” ujar Jondri.

Tetapi Iros mengatakan tidak tertarik mengembangkan branding digital karena keterbatasan waktu dan kemampuan.

Namun, ia terbuka jika ada pihak yang ingin membantu. “Kalau ada yang mau bantu, silakan. Tapi saya tetap jaga rasa,” ujarnya. (CR8)

Editor : Hendra Efison
#Pasar Ibuh #kopi racikan Iros #kopi Payakumbuh #warkop kekinian di Payakumbuh