Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Harga Emas Tembus Rekor US$5.126 Akibat Lonjakan Ketidakpastian Geopolitik

Heri Sugiarto • Senin, 26 Januari 2026 | 15:18 WIB

Harga emas dunia menembus rekor US$5.110 per ounce pada awal pekan, dipicu lonjakan ketidakpastian geopolitik dan melemahnya dolar AS.(Foto ilustrasi: Gemini AI)
Harga emas dunia menembus rekor US$5.110 per ounce pada awal pekan, dipicu lonjakan ketidakpastian geopolitik dan melemahnya dolar AS.(Foto ilustrasi: Gemini AI)
PADEK.JAWAWAPOS.COM—Harga emas melonjak ke rekor tertinggi menembus US$5.126 per ounce pada Senin (26/1/2026), setelah investor meningkatkan pembelian aset safe haven di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan tekanan terhadap dolar AS.

Spot gold naik 2,2 persen ke US$5.089,78 per ounce pada pukul 13.56 WIB, dan menyentuh level tertinggi sepanjang masa di US$5.126 pukul 15.00 WIB.

Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Februari juga menguat 2,2 persen ke US$5.086,30 per ounce.

Kenaikan ini memperpanjang reli historis yang terjadi sejak tahun lalu. Emas mencatat lonjakan 64 persen sepanjang 2025, menjadi kenaikan tahunan terbesar sejak 1979.

Reli tersebut ditopang permintaan safe haven, pelonggaran kebijakan moneter AS, pembelian masif bank sentral— termasuk aksi beli China selama 14 bulan berturut-turut pada Desember—serta arus masuk ETF yang memecahkan rekor.

Ketidakpastian Geopolitik Naik, Dolar Melemah

Harga emas telah menorehkan rekor berturut-turut sepanjang pekan lalu dan sudah naik lebih dari 18 persen sejak awal tahun.

Analis menyebut pemicu terbaru berasal dari meningkatnya krisis kepercayaan terhadap pemerintahan dan aset AS.

“Krisis kepercayaan terhadap pemerintah dan aset AS muncul akibat sejumlah keputusan tidak menentu dari pemerintahan Trump pekan lalu,” ujar Kyle Rodda, analis pasar senior di Capital.com, dikutip dari Reuters.

Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut membuat investor beralih ke emas sebagai alternatif utama.

Pada Rabu, Presiden AS Donald Trump tiba-tiba menarik ancaman tarif terhadap negara-negara Eropa yang sebelumnya digunakan sebagai tekanan terkait isu Greenland.

Namun pada akhir pekan, Trump menyatakan akan memberlakukan tarif 100 persen kepada Kanada jika negara tersebut melanjutkan kesepakatan dagang dengan China.

Selain itu, ia juga mengancam mengenakan tarif 200 persen pada wine dan sampanye Prancis, yang dinilai sebagai upaya menekan Presiden Prancis Emmanuel Macron agar ikut dalam Board of Peace.

Sebagian pihak menilai dewan tersebut berpotensi menggeser peran PBB, sementara Trump menyatakan inisiatif itu akan bekerja bersama PBB.

Di sisi lain, penguatan yen menekan dolar AS pada Senin, memicu ekspektasi intervensi pasar. Investor juga mengurangi posisi dolar menjelang pertemuan Federal Reserve pekan ini.

Dolar yang lebih lemah membuat emas lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lainnya.

Prospek Emas Diprediksi Menuju US$6.000

Sejumlah analis memperkirakan harga emas masih berpotensi menguat hingga menembus US$6.000 tahun ini.

Faktor pendorongnya meliputi meningkatnya ketegangan global serta permintaan kuat dari bank sentral dan investor ritel.

“Kami memperkirakan potensi kenaikan lebih lanjut. Proyeksi kami menunjukkan harga emas mencapai puncak sekitar US$5.500 tahun ini,” ujar Philip Newman, Direktur Metals Focus.

Ia menambahkan bahwa koreksi sesekali kemungkinan terjadi, tetapi akan cepat diimbangi aksi beli baru.

Sementara itu, spot silver naik 4,8 persen ke US$107,903 setelah mencetak rekor US$109,44. Platinum menguat 3,4 persen ke US$2.861,91, sementara palladium naik 2,5 persen ke US$2.060,70. Pergerakan ini mengikuti reli tajam silver yang pekan lalu menembus US$100 untuk pertama kalinya, setelah melonjak 147 persen pada 2025.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#harga emas #pelemahan dolar AS #Ketidakpastian Geopolitik #trump