Dalam laporan tersebut, Barcelona meraup pendapatan sebesar €277 juta atau setara Rp4,6 triliun, menempatkan mereka di posisi teratas dalam kategori pendapatan komersial dari penjualan pernak-pernik klub.
Barcelona unggul atas Real Madrid yang berada di posisi kedua dengan pendapatan €231 juta, serta melampaui Manchester United yang menempati peringkat keempat dengan total €172 juta.
Laporan resmi UEFA yang diunggah kembali oleh akun midnight.football_ pada Sabtu (28/2/2026) mencatat pencapaian ini sebagai perkembangan signifikan di tengah upaya manajemen Barcelona memulihkan kondisi finansial klub dalam beberapa musim terakhir.
Meningkatnya penjualan jersey Barcelona musim ini disebut tidak terlepas dari performa pemain muda, terutama Lamine Yamal, yang namanya menjadi salah satu yang paling banyak dicari penggemar di berbagai negara.
Jersey dengan nama punggung Lamine Yamal dilaporkan menjadi produk paling diminati, sehingga berkontribusi langsung terhadap lonjakan pendapatan merchandise klub sepanjang musim 2024/25.
Di posisi ketiga, Bayern Munich mencatatkan pendapatan €189 juta, sementara Manchester United tetap menjadi klub Inggris dengan penjualan tertinggi meski berada di peringkat keempat.
Dominasi klub Liga Inggris terlihat dalam daftar 11 besar, dengan Arsenal di posisi kelima mengantongi €151 juta, disusul Liverpool €148 juta, dan Tottenham Hotspur di peringkat ketujuh dengan €102 juta.
Galatasaray dari Liga Turki mencatat kejutan dengan menempati posisi kedelapan berkat pendapatan €99 juta, menunjukkan daya beli penggemar di luar lima liga top Eropa tetap signifikan.
Chelsea berada di peringkat kesembilan dengan €95 juta, sedangkan Paris Saint-Germain (PSG) dan Manchester City berbagi posisi kesepuluh dan kesebelas dengan angka pendapatan yang sama, yakni €88 juta.
Dalam UEFA Financial Report tersebut disebutkan bahwa pertumbuhan pendapatan merchandise secara keseluruhan di Eropa mengalami kenaikan stabil, mencerminkan loyalitas pendukung yang tetap tinggi dalam membeli produk resmi klub.
Laporan itu menyatakan bahwa data menunjukkan dukungan finansial langsung dari suporter melalui pembelian merchandise menjadi salah satu pilar penting dalam struktur pendapatan klub-klub Eropa.
Sejumlah analis ekonomi olahraga dalam laporan tersebut menilai strategi pemasaran Barcelona yang menyasar pasar anak muda melalui figur seperti Lamine Yamal serta optimalisasi media sosial dan desain jersey menjadi faktor pendorong utama.
Dengan pendapatan merchandise mencapai Rp4,6 triliun, Barcelona disebut memiliki ruang finansial lebih luas untuk menghadapi musim berikutnya, baik dari sisi operasional maupun kompetitif.(*)
Editor : Hendra Efison