JAKARTA, PADEK.JAWAPOS.COM—Di tengah tekanan pasar keuangan global dan koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), minat masyarakat Indonesia untuk berinvestasi di pasar modal justru terus meningkat.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penambahan sekitar 1,26 juta investor baru sepanjang Mei 2026, sehingga total investor pasar modal mencapai 27,75 juta orang.
Data tersebut disampaikan dalam hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK yang digelar pada 26 Mei 2026.
OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan nasional masih terjaga meski dibayangi meningkatnya inflasi global dan tingginya volatilitas pasar keuangan internasional.
Baca Juga: 1.333 ASN Pariaman Ikuti Pesantren ASN Virtual, Program Balad-Mulyadi Resmi Dimulai
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, bersama jajaran pimpinan OJK menyebut ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berkepanjangan masih menjadi salah satu faktor utama yang menekan perekonomian global.
“Kondisi itu membuat harga energi bertahan tinggi dan mendorong ekspektasi suku bunga global tetap tinggi dalam waktu yang lebih lama (higher for longer). Dampaknya, imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara meningkat dan memicu ketidakpastian di pasar keuangan, termasuk arus modal ke negara berkembang seperti Indonesia,” tutur Friderica, Jumat (5/6/2026).
Investor Domestik Tumbuh di Tengah Koreksi IHSG
Di tengah sentimen global tersebut, pasar saham Indonesia masih mengalami tekanan. IHSG pada akhir Mei 2026 ditutup di level 6.127,38 atau terkoreksi 11,92 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan turun 29,14 persen sejak awal tahun.
Investor asing juga masih mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp4,10 triliun di pasar saham selama Mei 2026, meski angkanya lebih rendah dibandingkan April yang mencapai Rp17,02 triliun.
Baca Juga: Menko Zulhas: Pupuk Bersubsidi Tiba Sebelum Musim Tanam, Distribusi Lebih Cepat ke Petani
Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan minat investor domestik. OJK mencatat jumlah investor pasar modal terus bertambah dengan penambahan sekitar 1,26 juta investor baru hanya dalam satu bulan. Secara kumulatif, jumlah investor pasar modal Indonesia tumbuh 36,27 persen sepanjang 2026 menjadi 27,75 juta investor.
Peningkatan jumlah investor ini juga didukung oleh likuiditas pasar yang tetap terjaga. Rata-rata nilai transaksi harian di pasar saham meningkat menjadi Rp22,86 triliun, dibandingkan Rp18,51 triliun pada April 2026.
Selain itu, rata-rata bid-ask spread pasar saham tercatat sebesar 1,50 persen, menunjukkan aktivitas perdagangan masih berlangsung cukup baik di tengah fase konsolidasi pasar.
Reksa Dana dan Industri Investasi Tetap Bertahan
Di sektor pengelolaan investasi, OJK mencatat nilai Asset Under Management (AUM) hingga 29 Mei 2026 mencapai Rp1.049,84 triliun. Meski mengalami penurunan tipis 1 persen dibandingkan bulan sebelumnya, angka tersebut masih tumbuh 0,68 persen sejak awal tahun.
Baca Juga: Bank Nagari Segera Luncurkan Promo Gratis Biaya Asuransi Kredit Multiguna bagi Pegawai Aktif
Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana juga tercatat sebesar Rp685,76 triliun atau turun 1,52 persen secara bulanan. Selama Mei 2026 terjadi penarikan dana investor (net redemption) sebesar Rp1,77 triliun.
Meski demikian, secara kumulatif industri reksa dana masih mencatat arus dana masuk (net subscription) sebesar Rp21,61 triliun sejak awal tahun. Kondisi ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap instrumen investasi domestik masih relatif terjaga.
Penggalangan Dana Korporasi Masih Berjalan Positif
OJK juga mencatat pasar modal tetap menjadi sumber pembiayaan jangka panjang bagi dunia usaha. Hingga Mei 2026, nilai penghimpunan dana melalui pasar modal mencapai Rp68,18 triliun.
Dana tersebut berasal dari satu Penawaran Umum Saham Perdana (IPO), satu Penawaran Umum Terbatas (PUT), enam Penawaran Umum Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk (EBUS), serta 51 Penawaran Umum Berkelanjutan EBUS.
Sementara itu, masih terdapat 75 rencana penawaran umum yang sedang dalam proses dengan nilai indikatif mencapai Rp64,26 triliun.
Baca Juga: Buron Hampir 4 Tahun, Terpidana Pemalsuan Surat Ditangkap Usai Salat Jumat di Padang
Pada sektor Securities Crowdfunding (SCF), hingga akhir Mei 2026 terdapat lima efek baru dan dua penerbit baru dengan total penghimpunan dana sebesar Rp11,09 miliar. Secara akumulatif, dana yang berhasil dihimpun melalui SCF telah mencapai Rp1,94 triliun.
OJK Pastikan Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga
Di tengah dinamika global, OJK menilai aktivitas ekonomi domestik masih menunjukkan ketahanan. Sektor manufaktur kembali berada pada zona ekspansi, inflasi masih terkendali meski mengalami kenaikan akibat harga energi global, dan neraca perdagangan Indonesia tetap mencatatkan surplus.
Kinerja sektor jasa keuangan juga dinilai tetap solid dengan pertumbuhan intermediasi yang positif serta tingkat solvabilitas yang berada pada level tinggi.
Baca Juga: Dewan Komisaris Hutama Karya Tinjau IPA Gunung Pangilun
Dalam aspek pengawasan, OJK terus memperkuat penegakan aturan di sektor Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (PMDK). Hingga 31 Mei 2026, OJK telah menjatuhkan sanksi administratif berupa denda sebesar Rp85,04 miliar kepada 97 pihak terkait hasil pemeriksaan kasus.
Selain itu, OJK juga mengenakan denda sebesar Rp53,90 miliar kepada 232 pihak atas pelanggaran keterlambatan pelaporan, disertai puluhan sanksi peringatan tertulis dan tindakan administratif lainnya.
OJK menilai, bertambahnya jumlah investor domestik di tengah koreksi pasar menjadi salah satu indikator bahwa kepercayaan terhadap fundamental sektor jasa keuangan Indonesia masih cukup kuat, meski ketidakpastian ekonomi global diperkirakan masih akan berlanjut.(*)
Editor : Hendra Efison