PADEK.JAWAPOS.COM-Harga emas dunia melanjutkan tren penurunan pada perdagangan di pasar Asia hari Senin (8/6/2026) hingga menyentuh level terendah dalam 11 pekan terakhir.
Penurunan harga emas dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan pasar. Kondisi tersebut mendorong investor meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga pada akhir tahun.
Di saat yang sama, lonjakan harga minyak mentah akibat kembali memanasnya konflik di Timur Tengah turut memperparah kekhawatiran terhadap inflasi global. Kombinasi faktor tersebut membuat daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset) menjadi berkurang di mata investor.
Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 10.00 WIB yang dikutip dari Investing, harga emas di pasar spot (spot gold) melemah 0,4 persen ke posisi USD 4.312,08 per ons. Angka tersebut merupakan level terendah bagi harga emas dunia sejak 23 Maret lalu.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS (U.S. Gold Futures) untuk pengiriman Agustus merosot 0,7 persen ke level USD 4.337,10 per ons.
Laporan Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan penciptaan 172.000 lapangan kerja baru pada Mei, jauh di atas perkiraan ekonom sebesar 85.000. Data tersebut memperkuat pandangan bahwa pasar tenaga kerja AS masih solid sehingga mengurangi peluang pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat.
"Meskipun tidak ada pesan yang konsisten dalam data pasar tenaga kerja, kami sekarang melihat peluang kenaikan suku bunga sudah diperhitungkan sepenuhnya pada pertemuan FOMC Desember mendatang," tulis analis dari ING dalam catatan terbarunya.
Tekanan terhadap harga emas semakin besar setelah harga minyak dunia melonjak menyusul meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran inflasi yang dapat mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Meski dikenal sebagai aset safe haven saat ketidakpastian geopolitik meningkat, emas saat ini menghadapi tekanan dari penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang meningkatkan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Indeks Dolar AS sendiri terpantau bergerak mendatar pada perdagangan di pasar Asia setelah sempat melonjak ke level tertinggi dalam dua bulan pada sesi sebelumnya.(*)
Rincian Data Ekonomi AS dan Pergerakan Komoditas per hari Senin (8/6/2026) pagi WIB:
-
Penciptaan Lapangan Kerja AS (Mei): 172.000 lapangan kerja baru (di atas prediksi ekonom).
-
Tingkat Pengangguran AS: Bertahan stabil di angka 4,3 persen.
-
Harga Minyak Mentah Brent: Melonjak mendekati USD 96 per barel.
-
Harga Minyak Mentah AS (WTI): Diperdagangkan di atas USD 93 per barel.
-
Harga Perak Dunia: Turun 0,8 persen menjadi USD 67,32 per ons.
-
Harga Platinum Dunia: Melemah 0,6 persen ke posisi USD 1.770,58 per ons.