Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

PTBA Uji Cofiring Tahap II di PLTU Banko Barat, Perkuat Transisi Energi dan Pengurangan Emisi Karbon

Heri Sugiarto • Senin, 15 Juni 2026 | 21:53 WIB
Aktivitas uji coba cofiring biomassa dan batu bara di PLTU Mulut Tambang Banko Barat milik PT Bukit Asam untuk mendukung pengurangan emisi karbon.(Foto: Corcom)
Aktivitas uji coba cofiring biomassa dan batu bara di PLTU Mulut Tambang Banko Barat milik PT Bukit Asam untuk mendukung pengurangan emisi karbon.(Foto: Corcom)

PADEK.JAWAPOS.COM – PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) terus memperkuat komitmennya dalam mendukung transisi energi dan pengurangan emisi karbon melalui pelaksanaan Uji Coba Cofiring Tahap II di PLTU Mulut Tambang Banko Barat berkapasitas 3x10 MW.

Uji coba yang berlangsung pada 9–10 Juni 2026 tersebut menjadi bagian dari inisiatif dekarbonisasi perusahaan untuk mewujudkan operasional pembangkit yang lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia.

Pada tahap kedua ini, PTBA memanfaatkan biomassa berupa wood pellet Kaliandra Merah sebesar 2 persen serta biomassa campuran dari tanaman pulai, akasia, dan puspa sebesar 3 persen.

Persentase tersebut meningkat dibandingkan Uji Coba Tahap I pada September 2025 yang menggunakan biomassa hasil land clearing masing-masing sebesar 1 persen.

Mine Development Department Head PTBA, Ferry Fadri Al Ilham, mengatakan uji coba dilakukan dengan parameter yang sama seperti tahap sebelumnya, namun dengan peningkatan jenis dan volume biomassa yang digunakan.

"Uji coba ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan PTBA untuk mengoptimalkan pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi pendamping batu bara. Hasilnya akan menjadi dasar evaluasi dalam pengembangan implementasi cofiring ke depan," ujar Ferry.

Ia menambahkan, pelaksanaan uji coba berjalan lancar tanpa memerlukan perubahan pada konstruksi maupun sistem utama pembangkit yang telah ada.

Direktur PT Bukit Energi Servis Terpadu (PT BEST), Zulkurniadi, menjelaskan implementasi cofiring tidak mengubah sistem operasional PLTU yang sudah berjalan.

Menurutnya, keandalan operasional tetap terjaga berkat penggunaan boiler tipe Circulating Fluidized Bed (CFB) yang dimiliki PLTU Banko Barat.

Meski biomassa memiliki nilai kalor lebih rendah dibandingkan batu bara, performa pembangkit tetap berjalan dengan baik selama proses uji coba.

Penyediaan biomassa Kaliandra Merah merupakan hasil kolaborasi PTBA dengan Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta (UPNVYK) yang sejak Januari 2024 mengembangkan Kebun Energi, termasuk fasilitas pengolahan wood pellet.

Guru Besar Fakultas Pertanian UPN "Veteran" Yogyakarta, Prof. Dr. Mohammad Nurcholis, M.Si., menjelaskan Kaliandra Merah memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida serta menghasilkan biomassa berkualitas tinggi dengan nilai kalor di atas 4.300 kilokalori per kilogram.

Karakteristik tersebut dinilai mampu mendukung proses pembakaran tanpa menurunkan kualitas energi yang dihasilkan.

Selain mendukung upaya dekarbonisasi, PTBA juga menyiapkan keberlanjutan pasokan biomassa melalui pengembangan Kebun Energi.

Kaliandra Merah dipilih karena tergolong tanaman cepat tumbuh, memiliki kandungan energi tinggi, serta mampu tumbuh kembali setelah dipanen tanpa memerlukan penanaman ulang.

Corporate Secretary Division Head PTBA, Eko Prayitno, mengatakan kolaborasi antara industri, akademisi, dan perusahaan menjadi bagian penting dalam memperkuat transformasi PTBA menuju perusahaan energi yang berkelanjutan.

"Langkah ini merupakan bukti nyata komitmen Perseroan dalam mendukung ketahanan energi nasional, mengurangi emisi karbon, dan mempercepat transisi menuju masa depan energi yang lebih bersih," kata Eko.(*)

 

Editor : Heri Sugiarto
#Cofiring #Net zero emission #transisi energi #pt bukit asam #ptba