Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Harga Emas Dunia Menguat Setelah Anjlok 3 Persen, Ketegangan Timur Tengah dan The Fed Jadi Sorotan

Heri Sugiarto • Selasa, 14 Juli 2026 | 13:56 WIB
Harga emas dunia naik ke US$4.022 usai anjlok 3%. Pasar menanti data inflasi AS, kesaksian Ketua The Fed, dan perkembangan Timur Tengah.(Foto ilustrasi: pngtree)
Harga emas dunia naik ke US$4.022 usai anjlok 3%. Pasar menanti data inflasi AS, kesaksian Ketua The Fed, dan perkembangan Timur Tengah.(Foto ilustrasi: pngtree)

PADEK.JAWAPOS.COM – Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Selasa (14/7/2026), setelah sempat menyentuh level terendah dalam dua pekan.

Kenaikan dipicu aksi beli saat harga murah (bargain hunting) menyusul aksi jual tajam sehari sebelumnya. Sementara pelaku pasar menanti rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) dan kesaksian Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Kongres.

Berdasarkan laporan Investing, harga emas spot (XAU/USD) naik 0,54 persen menjadi US$4.022,87 per troy ounce. Kontrak berjangka emas (Gold Futures) menguat 0,59 persen ke US$4.029,22 per ounce.

Logam mulia lainnya juga bergerak positif. Perak (XAG/USD) naik 0,63 persen menjadi US$58,02 per ounce, sedangkan platinum (XPT/USD) menguat 0,42 persen ke US$1.610,82 per ounce.

Pemulihan terjadi setelah harga emas anjlok hampir 3 persen pada Senin (14/7/2026), penurunan harian terbesar dalam lebih dari satu bulan. Saat itu, emas sempat turun di bawah US$4.000 per ounce untuk pertama kalinya dalam tiga pekan.

Tekanan terhadap pasar dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pemerintahannya akan kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran Iran di Teluk dan mendeklarasikan Amerika Serikat sebagai "Guardian of the Hormuz Strait". Trump juga mengusulkan biaya sebesar 20 persen bagi kapal kargo yang melintasi jalur strategis tersebut.

Kebijakan itu meningkatkan tekanan terhadap Iran sekaligus memunculkan keraguan atas keberlangsungan gencatan senjata yang rapuh sejak Juni.

Di sisi lain, harga minyak mentah melanjutkan penguatan karena pasar mengantisipasi potensi gangguan pasokan melalui Selat Hormuz.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran kenaikan biaya energi dapat mendorong inflasi lebih tinggi dan menyulitkan Federal Reserve mencapai target inflasi.

Bagi emas, prospek inflasi menjadi faktor yang saling bertolak belakang. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Namun, apabila inflasi memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan moneter, kenaikan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar AS berpotensi menekan harga emas.

Sentimen negatif juga datang dari pernyataan Gubernur Federal Reserve Christopher Waller, yang menilai bank sentral mungkin perlu menaikkan suku bunga dalam waktu dekat apabila tekanan inflasi tetap meluas.(*)

Editor : Heri Sugiarto
data inflasi Amerika Serikat harga emas dan Timur Tengah kebijakan suku bunga The Fed harga emas harga emas dunia hari ini